Karhutla Mengancam Kesehatan, Ini Langkah Melindungi Diri dari Kabut Asap

8 hours ago 27
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, sekitar 3 juta orang terpapar asap kebakaran hutan dan lahan, sehingga pihaknya mengimbau warga untuk memakai masker dan memantau kualitas udara secara rutin guna mencegah dampak kesehatan. Foto: Kemenkes

KabarJakarta.com – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu jarak pandang dan membuat udara terasa pengap. Di balik kabut asap yang menyelimuti permukiman, terdapat partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak perlu memiliki cara untuk melindungi diri. Dokter spesialis paru dan pernapasan dr. Feni Fitriani Taufik menjelaskan, perlindungan kesehatan akibat paparan asap karhutla dapat dilakukan melalui tiga tahap, yakni pencegahan primer, sekunder, dan tersier.

Menurut Feni, pencegahan primer dilakukan dengan mencegah masyarakat terpapar asap sejak awal. Upaya tersebut tentu tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat, tetapi juga membutuhkan penanganan sumber kebakaran secara cepat.

Di tingkat rumah tangga, masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah kebakaran disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Konsentrasi polusi dari asap karhutla umumnya lebih tinggi di ruang terbuka.

“Caranya seperti apa? Hindari aktivitas di luar rumah, karena polusi akibat asap kebakaran tentu akan lebih besar konsentrasinya ada di luar rumah,” kata Feni di Jakarta, Rabu (26/8).

Dia menambahkan, “Kalau pun harus keluar rumah, gunakan masker. Jenis apa pun, tetap ada faktor perlindungannya dibanding tidak menggunakan masker sama sekali.”

Jika aktivitas di luar rumah tidak dapat dihindari, masyarakat perlu mengatur waktu sebaik mungkin. Aktivitas dilakukan sesingkat mungkin dengan perlindungan maksimal. Selain masker, kacamata dapat digunakan untuk melindungi mata dari iritasi. Pakaian yang menutup tubuh juga membantu mengurangi kontak langsung dengan lingkungan yang penuh asap.

Perlindungan juga perlu dilakukan ketika masyarakat sudah berada di dalam rumah. Pintu dan jendela sebaiknya ditutup rapat agar asap dari luar tidak mudah masuk.

Namun, udara di dalam rumah juga harus dijaga. Feni mengingatkan masyarakat agar tidak menambah sumber polusi dari aktivitas sehari-hari.

“Di dalam rumah sendiri, jangan menambah polusi udara. Misalnya tidak merokok di rumah, tidak menyalakan lilin atau obat nyamuk bakar di dalam rumah. Karena konsentrasi polusi di dalam rumah, udara di dalam rumah akan meningkat dengan melakukan kegiatan tersebut,” ujarnya.

Tahap berikutnya adalah pencegahan sekunder. Langkah ini ditujukan kepada orang yang sudah terpapar asap, tetapi diharapkan tidak mengalami kondisi kesehatan yang lebih buruk. Masyarakat perlu memperhatikan perubahan kondisi tubuh dan mengenali gejala yang muncul.

Apabila keluhan tidak membaik, pemeriksaan medis sebaiknya segera dilakukan. “Segera ke dokter atau fasilitas kesehatan, jika keluhan yang tadi belum ada perbaikan,” ungkap Feni.

Sementara itu, pencegahan tersier ditujukan bagi mereka yang sudah mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap. Pasien perlu menjalani perawatan dan menggunakan obat tambahan sesuai anjuran dokter. Pengobatan tidak boleh diabaikan meskipun kondisi mulai membaik.

Feni juga mengingatkan agar kebiasaan yang memperburuk kesehatan paru, terutama merokok, dihentikan. Menurut dia, berhenti merokok seharusnya tidak hanya dilakukan ketika karhutla terjadi, tetapi menjadi kebiasaan seterusnya.

Di tengah kondisi udara yang buruk, menjaga daya tahan tubuh juga menjadi bagian penting dari perlindungan. Masyarakat dianjurkan cukup beristirahat, mengelola stres, memperbanyak minum air putih, serta mengonsumsi makanan bergizi.

“Artinya, dengan mempertahankan pola hidup bersih dan sehat, mudah-mudahan daya tahan tubuh masih bisa dioptimalkan. Sehingga tidak terlalu terdampak dengan efek kebakaran hutan tersebut,” kata Feni, yang berpraktik di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur.

Perlindungan terhadap warga terdampak karhutla juga membutuhkan langkah bersama. Kebiasaan membakar sampah perlu dihentikan, sementara pemerintah dan pihak terkait dapat menyediakan shelter atau tempat penampungan dengan kualitas udara yang lebih bersih bagi masyarakat yang membutuhkan perlindungan.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan menyebut hingga Jumat (21/8), karhutla telah berdampak terhadap 87 kabupaten/kota di Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Sekitar tiga juta warga di 37 kabupaten/kota dilaporkan terpapar kabut asap. Ancaman utamanya berasal dari partikel halus PM2,5 yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan.

Di tengah ancaman tersebut, perlindungan terbaik bukan hanya menunggu asap menghilang. Mengurangi paparan, menjaga kualitas udara di rumah, mengenali gejala, serta segera mencari pertolongan medis ketika kondisi memburuk menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi dampak karhutla terhadap kesehatan.

Read Entire Article
| | | |