jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Di tengah gempuran digitalisasi dan maraknya hoaks, jurang antara ilmuwan dan masyarakat semakin lebar.
Rendahnya literasi sains membuat publik mudah terjebak pseudosains, termasuk teori bumi datar.
Direktur Jenderal (Dirjen) Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Ahmad Najib Burhani menilai kondisi ini sebagai era death of expertise, ketika kepercayaan pada pakar melemah.
Bahkan, muncul fenomena weaponization of expertise, yakni kepakaran yang dimanfaatkan untuk kepentingan tidak ilmiah.
"Teknologi boleh canggih, tetapi kalau ilmu tidak menjembatani kesenjangan dengan masyarakat, ia hanya jadi kemewahan di menara gading," kata Najib dalam Seminar dan Workshop Nasional "Fuel Your Potential (FYP)" di Sabuga Bandung, Kamis (4/12/2025).
Najib menyebut ada tiga sekat besar yang membuat sains gagal menjangkau publik.
Pertama, eksklusivitas, riset unggulan tidak dipahami masyarakat dan sering tidak berkaitan dengan masalah nyata.
Kedua, komunikasi, lebih dari 80 persen informasi yang diterima publik adalah 'sampah informasi ', sementara ruang komunikasi sains masih minim.



















































