jpnn.com, JAKARTA - Relawan Prabowo-Gibran, LOGIS 08 menyatakan dukungan penuh terhadap langkah tegas Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono, yang menutup secara permanen ratusan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak memenuhi standar operasional.
Ketua Umum LOGIS 08 Anshar Ilo menilai keputusan tersebut merupakan bukti bahwa BGN tidak mentoleransi setiap bentuk pelanggaran yang berpotensi mengganggu kualitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, yang merupakan salah satu program strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
"Program Makan Bergizi Gratis adalah investasi besar bagi masa depan generasi Indonesia. Karena itu, kualitas, keamanan pangan, dan standar pelayanan tidak boleh dikompromikan. Kami mengapresiasi langkah tegas Kepala BGN yang menutup SPPG yang tidak memenuhi standar. Ketegasan seperti inilah yang dibutuhkan agar kepercayaan masyarakat terhadap program MBG tetap terjaga,” ujar Anshar Ilo dalam keterangannya, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, keputusan menutup SPPG yang bermasalah menunjukkan bahwa pemerintah lebih mengutamakan keselamatan penerima manfaat daripada sekadar mengejar jumlah dapur yang beroperasi. Sikap tersebut dinilai mencerminkan tata kelola pemerintahan yang mengedepankan akuntabilitas, evaluasi, dan pengawasan berkelanjutan.
Wakil Ketua Umum DPP KNPI itu menegaskan setiap SPPG harus memenuhi seluruh persyaratan yang telah ditetapkan, mulai dari aspek higienitas, sanitasi, kualitas makanan, hingga pengelolaan limbah.
Standar tersebut, menurutnya, merupakan syarat mutlak agar tujuan Program MBG untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia dapat tercapai secara optimal.
“Lebih baik jumlah dapur berkurang sementara, tetapi seluruhnya memenuhi standar, daripada mempertahankan dapur yang justru membahayakan kesehatan anak-anak. Program sebesar MBG harus dibangun di atas kualitas, bukan sekadar kuantitas,” tegasnya.
LOGIS 08 juga mengajak seluruh pengelola SPPG di berbagai daerah untuk menjadikan langkah evaluasi BGN sebagai momentum memperbaiki tata kelola operasional.






















































