jpnn.com, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis hasil riset terhadap 60 sampel rokok elektrik dari berbagai merek dan kadar nikotin yang beredar di pasaran.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fraksi Partai Golkar Yahya Zaini menilai riset itu sebagai angin segar bagi perumusan kebijakan berbasis bukti.
Pasalnya, uji laboratorium dalam studi berjudul Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia Based on WHO’s Nine Toxicants tersebut menunjukkan, produk tembakau alternatif memiliki kandungan zat berbahaya dalam jumlah yang jauh lebih rendah daripada tiga jenis tembakau konvensional.
“Kami apresiasi hasil penelitian BRIN sebagai sebuah terobosan baru. Saya menghargai langkah BRIN dalam melakukan penelitian yang berbasis bukti ilmiah. Setiap penelitian yang dilakukan secara independen dan terukur tentu memberi tambahan perspektif bagi pembuat kebijakan,” kata Yahya dikutip, Jumat (28/11).
Menurut dia, penelitian BRIN hendaknya menjadi pertimbangan terhadap regulasi mengenai produk hasil tembakau yang sedang disusun Kementerian Kesehatan, misalnya Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan (RPMK) Tembakau mengenai standardisasi kemasan serta pengaturan bahan tambahan produk tembakau.
Aturan yang disusun sebagai aturan turunan UU Kesehatan dan PP Kesehatan juga perlu memperhatikan dampak pada industri, mulai dari petani tembakau hingga buruh pabrik. Yahya menegaskan, keberadaan produk tembakau alternatif bukan serta merta bebas risiko, tetapi tetap memiliki risiko kesehatan bagi siapa saja yang mengonsumsinya.
Meskipun begitu, hadirnya penelitian semacam ini di Indonesia menjadi angin segar dalam memperkaya perspektif bagi perumus aturan.
“Penelitian seperti ini harus ditempatkan dalam konteks yang proporsional sebagai bagian dari evidence base untuk kebijakan publik, bukan sebagai justifikasi untuk melonggarkan pengawasan,” kata Yahya.






















































