bali.jpnn.com, DENPASAR - Di Bali, ombak bukan hanya permainan alam. Bagi banyak orang, ombak adalah ruang hidup, tempat karakter dibentuk, dan identitas lahir.
Dari kultur pantai itulah muncul Bagus Made Irawan, sosok yang lebih dikenal dengan nama panggilan “Piping”.
Awalnya, Piping hanyalah anak pantai yang menikmati surfing sebagai aktivitas yang menyenangkan. Pergaulan dengan wisatawan asing mengantarkannya untuk menjadi fotografer surfing.
Ia lalu menorehkan jejak penting dalam sejarah surfing Bali melalui media cetak “Surf Time” pada 1999 dan kemudian “Magic Wave” yang didirikannya.
Saat mendirikan media-media surfing, informasi tentang surfing masih terbatas, belum ada Instagram, belum ada kanal digital yang bisa menampilkan aksi surfer dalam hitungan detik.
Surfing adalah dunia yang hidup di pantai—dan kisahnya sering lenyap begitu saja bersama hempasan ombak.
Magic Wave hadir sebagai tabloid yang menempatkan surfer lokal sebagai tokoh utama.
Isinya beragam, mulai dari liputan kompetisi surfing, profil surfer Bali, ulasan spot ombak, tren papan selancar, hingga budaya pantai yang menjadi roh dari dunia surfing itu sendiri.















































