jpnn.com, AMERIKA SERIKAT - Post hard rock asal Detroit, Eva Under Fire, baru saja merilis single yang berjudul Murder Scene.
Lagu yang dirilis melalui Better Noise Music itu menjadi teriakan perlawanan yang emosional dan jujur, mengubah luka batin menjadi sebuah anthem kekuatan diri bagi siapapun yang pernah dikhianati.
Dibalut dengan sound keras serta lirik yang tajam khas Eva Under Fire, Murder Scene membahas isu sensitif seperti gangguan makan, body dysmorphia, kecemasan, dan tekanan mental yang muncul ketika sorotan publik berubah menjadi sebuah penghakiman.
Lagu itu terasa brutal sekaligus rapuh, sebuah potret yang nyata tentang pertarungan batin.
"Murder Scene mengeksplorasi gangguan makan, citra tubuh, keraguan diri dan bagaimana mimpi bisa berubah menjadi mimpi buruk ketika orang-orang yang dulu mendukungmu justru mulai mengkritikmu,” kata vokalis Eva Under Fire, Amanda Lyberg.
"Kecemasan adalah pembohong di kepalaku. Ia bilang aku tidak pantas berada di sini. Aku melawannya, tapi suaranya semakin keras dan rasanya seperti ingin membunuhku," sambungnya.
Single Murder Scene merupakan kelanjutan dari ‘Awakening’ (2025) dan menandai era baru Eva Under Fire yang makin terbuka dan konfrontatif.
Dengan latar belakang Amanda sebagai terapis berlisensi, Eva Under Fire secara konsisten membuka ruang dialog tentang kesehatan mental melalui musik.
Demi mendukung perilisan Murder Scene, Eva Under Fire akan menjalani tur Amerika Serikat bersama Jeris Johnson dan Butcher Babies, mengajak para pendengar untuk bernyanyi bersama dalam solidaritas dan kekuatan. (ded/jpnn)



















































