jateng.jpnn.com, SEMARANG - Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pelabuhan Niaga dan Penyeberangan Kendal, Jawa Tengah.
Dalam kunjungan itu, dia menemukan banyak persoalan yang membuatnya prihatin, terutama karena pelabuhan penyeberangan yang berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut sudah dua tahun tidak difungsikan.
Bambang menyebut Pelabuhan Kendal sebenarnya memiliki peran vital sebagai penyangga Pelabuhan Tanjung Emas Semarang yang kini mendekati batas kapasitas maksimal.
Kapasitas tampung pelabuhan di Semarang, kata dia, saat ini mencapai 800.000 kontainer dari kemampuan 1,2 juta kontainer. Dengan kenaikan arus kontainer 10-15 persen per tahun, Semarang diperkirakan akan mengalami overload dalam empat tahun ke depan.
“Pelabuhan Kendal ini adalah penyangga utama Semarang. Kondisi Tanjung Emas sudah hampir titik maksimum. Kalau tidak segera ada pelabuhan alternatif, kita tinggal menunggu waktu sampai terjadi kongesti,” ujarnya seusai sidak di Pelabuhan Penyeberangan Kendal, Jumat (28/11).
Menurut Bambang, Pelabuhan Penyeberangan Kendal diresmikan sebagai PSN yang terintegrasi dengan Kawasan Industri Kendal sejak 2016. Namun, kini fasilitas tersebut justru vakum total.
“Sudah dua tahun tidak berfungsi. Ini sangat memprihatinkan. Pelabuhan ini tidak boleh vakum karena perannya strategis dan dibutuhkan untuk menopang logistik wilayah barat Semarang,” ujarnya.
Bambang menyebut kendala utama terletak pada kedalaman alur pelayaran yang belum dinormalisasi. Padahal, sesuai amanat UU No. 17/2008, Kementerian Perhubungan wajib melakukan normalisasi alur dan kolam pelabuhan.



















































