jpnn.com, JAKARTA - Kolaborasi strategis untuk mempercepat transisi energi di sektor keagamaan resmi dimulai. Melalui forum Rapat Koordinasi Wakaf dan Sedekah Energi yang diinisiasi oleh Muslims for Shared Action on Climate Impact (MOSAIC), pemerintah bersama organisasi masyarakat sipil (CSO) sepakat menyusun peta jalan (road map) solarisasi masjid dan pesantren di Indonesia.
Langkah ini merupakan upaya nyata dalam mengintegrasikan ekosistem wakaf ke dalam agenda transisi energi nasional, sekaligus mendukung ambisi Presiden Prabowo Subianto untuk membangun 100 GW Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di masa depan.
"Indonesia memiliki lebih dari 800 ribu masjid yang tersebar di seluruh pelosok negeri," kata Direktur Program MOSAIC, Aldy Permana, Rabu (15/4).
Fasilitas keagamaan ini dinilai memiliki potensi luar biasa sebagai lokasi pemasangan panel surya atap yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Aldy Permana, menekankan bahwa masjid dan pesantren bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ruang edukasi publik yang efektif.
"Ketika fasilitas keagamaan mengadopsi energi surya, dampaknya melampaui penghematan biaya operasional," ujar Aldy.
Hingga saat ini, program Sedekah Energi telah berhasil memasang panel surya di enam lokasi, yaitu Sembalun, Yogyakarta, Tasikmalaya, Garut, Dharmasraya, dan Sijunjung dengan total kapasitas 23.525 WP. Keberhasilan ini didukung oleh partisipasi lebih dari 21 ribu donatur.
"Meski memiliki potensi yang sangat besar, pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia masih tergolong rendah," ungkap Koordinator dari Direktorat Energi Terbarukan Kementerian ESDM, Erick Tadung.




















































