jpnn.com, JAKARTA - US-ASEAN Business Council (USABC) secara aktif mendorong kolaborasi antara sektor swasta dan publik untuk mempercepat transisi menuju ekonomi sirkular di kawasan Asia Tenggara.
Kolaborasi itu bertujuan untuk mengembangkan sistem Extended Producer Responsibility (EPR) yang praktis dan ramah investasi.
EPR dirancang khusus untuk mengoptimalkan pengelolaan siklus produk kemasan di seluruh kawasan.
Chief Country Representative untuk Indonesia, USABC Nugraheni Utami mengatakan penerapan sistem EPR yang efektif di Asia Tenggara mempunyai tantangan tersendiri, termasuk integrasi sektor informal yang sangat luas, keterbatasan kapasitas, serta dukungan institusional, dan kendala pendanaan.
Selain itu, minimnya data sampah menghambat penetapan target dan pengukuran kinerja, sehingga sulit menilai dampak nyata dari upaya yang telah berjalan.
“Kerangka EPR yang jelas, diwajibkan pemerintah, dan dijalankan oleh industri sangat penting untuk memperluas solusi ekonomi sirkular di kawasan ASEAN,” ucap Nugraheni di Jakarta Selatan, pada Kamis (27/11).
Menurut dia, kesepakatan regional atas prinsip utama yang kemudian didukung oleh proses pelaporan yang transparan, akan menciptakan persaingan yang adil bagi industri.
“Hal ini juga mendorong investasi dalam infrastruktur yang dibutuhkan untuk menghadirkan sistem EPR yang efektif dan inklusif, serta meningkatkan hasil ekonomi sirkular untuk kemasan,” kata dia.






















































