jpnn.com, JAKARTA - Pemilihan teknologi termal untuk mengolah sampah menjadi energi atau waste to energy (WTE) perlu disesuaikan dengan karakteristik sampah dan kesiapan sistem pengelolaan di setiap daerah agar fasilitas dapat beroperasi secara optimal, aman, dan berkelanjutan.
Pakar Politik Lingkungan dan Tata Kelola Universitas Gadjah Mada (UGM) Nur Azizah, M.Sc. mengatakan teknologi seperti insinerasi maupun gasifikasi dapat menjadi salah satu pilihan dalam mengatasi tekanan volume sampah, tetapi penerapannya membutuhkan perencanaan yang matang sejak dari hulu hingga hilir.
“WTE dapat menjadi salah satu pilihan untuk menangani persoalan sampah, terutama ketika daerah menghadapi tekanan volume sampah yang besar. Namun, penerapannya tidak dapat hanya bertumpu pada pembangunan fasilitas atau pemilihan teknologi. WTE harus ditempatkan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir,” kata Nur Azizah di Yogyakarta.
Pandangan tersebut menjadi relevan di tengah percepatan pengembangan WTE di sejumlah daerah. Salah satunya pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bekasi yang dikembangkan melalui kolaborasi Danantara Indonesia, pemerintah, dan mitra terkait sebagai bagian dari upaya menangani persoalan sampah perkotaan sekaligus memanfaatkan residu sampah menjadi sumber energi.
PSEL Bekasi dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 1.500 ton sampah per hari dengan investasi sekitar Rp3 triliun. Fasilitas tersebut menggunakan teknologi moving grate incinerator yang dilengkapi Air Pollution Control System (APCS), dengan target mulai beroperasi pada pertengahan 2028.
Nur menilai pengembangan fasilitas WTE dalam skala besar perlu dibarengi pemetaan karakteristik sampah secara menyeluruh. Hal ini penting karena teknologi pengolahan termal yang dikembangkan di negara lain belum tentu dapat diterapkan dengan pola yang sama di Indonesia.
Sampah perkotaan Indonesia banyak mengandung material organik dengan kadar air relatif tinggi. Karakter tersebut berbeda dengan sampah di sejumlah negara Eropa yang relatif lebih kering dan menjadi basis pengembangan berbagai teknologi pengolahan termal.
Pada teknologi insinerasi, kadar air yang tinggi dapat memengaruhi efektivitas pembakaran. Sampah yang semakin basah, khususnya pada musim hujan, membutuhkan perhatian pada proses penyiapan atau pre-treatment agar proses termal dapat berlangsung secara stabil dan efisien.






















































