jpnn.com, JAKARTA - Indonesia hingga saat ini masih berada di peringkat tiga besar negara dengan jumlah kasus bibir sumbing tertinggi di dunia. Kondisi ini jika tidak ditangani sejak dini bisa menghambat kemampuan makan, dan berbicara.
Menurut dokter ahli bedah plastik mitra Smile Train, dr. Yantoko, Sp.BP-RE, bibir sumbing juga bisa mengganggu tumbuh kembang dan psikologis anak.
Dia menyatakan, meski memberikan dampak perubahan hidup yang signifikan, prosedur operasi sumbing sebenarnya hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Hal itu tetap menekankan prioritas utama pada standar medis yang aman.
"Kami mendorong agar operasi dilakukan sedini mungkin untuk mencegah komplikasi jangka panjang pada tumbuh kembang dan mental anak," kata dr. Yantoko dalam acara silaturahmi bertajuk Harmoni Ramadan Ciptakan Senyuman di Jakarta, Selasa (3/3).
Upaya menciptakan senyuman baru ini juga mendapat dukungan dari sektor swasta, salah satunya kantor hukum Dentons HPRP.
Secretary Yayasan Smile Train Indonesia sekaligus Partner di Dentons HPRP, Andre Rahadian, menyatakan, kolaborasi ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (giving back to society).
"Bertepatan dengan bulan suci Ramadan menjadi momentum penting bagi kami untuk memperkuat kepedulian terhadap sesama," beber Andre.
Melalui 'Harmoni Ramadan Ciptakan Senyuman', Smile Train Indonesia bersama Dentons HPRP menegaskan komitmen dalam menangani kasus bibir sumbing dan celah langit-langit mulut secara komprehensif, aman, dan tanpa biaya bagi keluarga yang membutuhkan.




















































