jatim.jpnn.com, SURABAYA - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tengah menjadi sorotan setelah aksi pembelian besar-besaran oleh jajaran manajemen di tengah fluktuasi pasar awal 2026.
Pengamat pasar modal Rendy Yefta menilai fenomena ini sebagai sinyal kuat kepercayaan internal terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
“Ini bukan transaksi biasa, melainkan strategi buy on weakness, di mana manajemen membeli saat harga sedang terdiskon,” ujar Rendy dalam keterangan tertulis, Minggu (19/4).
Pada kuartal I 2026, sejumlah petinggi BCA tercatat menggelontorkan dana pribadi dalam jumlah signifikan untuk menambah kepemilikan saham, di antaranya Hendra Lembong sekitar Rp7,93 miliar, John Kosasih Rp4,37 miliar, Vera Eve Lim Rp3,84 miliar, hingga Santoso Rp3,46 miliar. Aksi serupa juga dilakukan Frenkie Candra Kusuma dan Lianawaty Suwono.
Menurut Rendy, langkah tersebut menjadi indikasi bahwa pihak internal yang paling memahami kondisi perusahaan melihat harga saham saat ini sebagai peluang.
“Kalau orang dalam saja melihat ini sebagai momen akumulasi, seharusnya investor ritel mulai mencermati,” katanya.
Dari sisi valuasi, dia menyoroti bahwa saham BBCA saat ini diperdagangkan di kisaran price to earnings ratio (PER) sekitar 15 kali. Angka tersebut dinilai relatif murah jika dibandingkan dengan Bank Jago (ARTO) yang berada di kisaran PER 64 kali.
Menurutnya, secara fundamental, BCA dinilai jauh lebih mapan dengan kemampuan mencetak laba puluhan triliun rupiah secara konsisten, didukung jaringan kuat serta dominasi dana murah (CASA).


















































