jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Dunia pendidikan menghadapi tantangan besar dalam menyiapkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat, kesenjangan keterampilan atau skill gap masih menjadi persoalan utama di pasar kerja Indonesia.
Isu tersebut mengemuka dalam HCM Talks Series #6 bertajuk 'Navigating Talent, Technology and Future of Work through Human Capital' yang digelar Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) bersama Perkumpulan Manajemen Sumber Daya Manusia (PMSM) Indonesia dan Asosiasi Perusahaan Recruitment dan Executive Search Indonesia (APRESI) di Kampus SBM ITB Jakarta.
Wakil Dekan Bidang Sumber Daya SBM ITB, Prof Donald Crestofel Lantu mengatakan, kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan asosiasi profesi menjadi kunci untuk membangun ekosistem talenta Indonesia yang lebih kuat.
Menurutnya, SBM ITB berperan menghasilkan talenta melalui pendidikan, APRESI menjembatani kebutuhan pasar tenaga kerja, sedangkan PMSM menjadi wadah pengembangan sumber daya manusia di berbagai organisasi.
"Jangan pernah menghilangkan faktor manusia. Gunakan teknologi sebagai pendukung dan teruslah menjadi pembelajar sepanjang hayat yang mampu menavigasi perubahan dengan nilai dan tujuan yang jelas," kata Donald, dalam keterangannya, Rabu (10/6/2026).
Ketua PMSM Indonesia yang juga Chief People Officer Tiket.com, Dudi Arisandi menegaskan pihaknya terus mendorong pengembangan talenta Indonesia melalui berbagai program peningkatan kompetensi dan jejaring profesional.
Sementara itu, Chairman APRESI sekaligus CEO Recruit Asia Ricky Mulani menilai perkembangan teknologi tidak serta merta menghilangkan peran manusia dalam proses rekrutmen.



















































