jpnn.com, JAKARTA - Perusahaan kecerdasan buatan asal Swedia, Ebbot, menjalin aliansi strategis dengan Veda Praxis untuk mendorong adopsi AI yang bertanggung jawab di Asia Tenggara.
Kemitraan ini diumumkan di Stockholm, Jakarta, dan Singapura sebagai langkah mempercepat implementasi AI di sektor perbankan, jasa keuangan, hingga sektor publik dengan tetap menjaga kepatuhan dan ketahanan operasional.
Kolaborasi tersebut memadukan platform agentic AI milik Ebbot yang telah memenuhi ketentuan General Data Protection Regulation (GDPR) dengan pengalaman regional Veda Praxis selama lebih dari dua dekade di bidang digital, governance, risk, and compliance (GRC), serta cybersecurity.
Sinergi ini dirancang untuk membantu organisasi mengadopsi AI secara luas tanpa mengorbankan kedaulatan data dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku di masing-masing negara.
Potensi ekonomi menjadi latar belakang kerja sama ini. Ekonomi digital Asia Tenggara diproyeksikan mencapai USD 1 triliun pada 2030, dengan nilai ekonomi regional melampaui USD 4,5 triliun.
AI bahkan berpotensi menyumbang hingga 18 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) kawasan. Namun, integrasi AI ke dalam sistem kritikal juga menghadirkan tantangan, mulai dari transparansi model hingga aspek auditabilitas.
Sejumlah regulator di kawasan telah merespons perkembangan tersebut. Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan telah menerbitkan panduan tata kelola AI.
Di Singapura, Monetary Authority of Singapore terus memperkuat standar regional, sementara Vietnam mengesahkan undang-undang AI komprehensif yang mulai berlaku pada Maret 2026.





















































