SNIA 2025: Laode Nusriadi Rekomendasikan 6 Langkah Strategis Agar Auditor Internal tetap Terdepan

2 months ago 74

Dirjen Pemeriksaan Keuangan Negara VI BPK Dr. Laode Nusriadi menyampaikan sejumlah rekomendasi penting dalam Seminar Nasional Internal Audit (SNIA) 2025 di Bali, Kamis (4/12/2025). Foto: supplied

jpnn.com - Direktur Jenderal Pemeriksaan Keuangan Negara VI BPK Dr. Laode Nusriadi menyampaikan sejumlah rekomendasi penting dalam Seminar Nasional Internal Audit (SNIA) 2025, di The Stones Hotel, Legian Bali, 3-4 Desember 2025.

Seminar tersebut diikuti perwakilan regulator, akademisi, auditor internal, BUMN/BUMD/BUMS dan sektor publik yang membedah lanskap risiko dan tata kelola baru yang akan menentukan arah profesi audit internal di masa mendatang.

Dalam rekomendasi berjudul "Apa yang Mendorong Perubahan Agar Auditor Internal tetap Menjadi yang Terdepan di Tahun Mendatang?", Laode Nusriadi menyampaikan bahwa ke depan profesi audit internal Indonesia berhadapan dengan pergeseran struktural yang sangat fundamental.

"Tidak hanya karena percepatan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), machine learning, digital payment expansion, dan disrupsi model bisnis, tetapi juga karena hadirnya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang BUMN yang mulai berlaku pada 6 Oktober 2025," kata Nusriadi, dikutip dari dokumen rekomendasinya, Kamis (4/12/2025).

Dia menjelaskan bahwa regulasi itu membawa perubahan besar pada governance architecture BUMN dan UU 16/2025 akan menandai era baru bagi tata kelola BUMN yang menuntut auditor internal untuk memiliki maturity level yang lebih tinggi, kecepatan adaptasi, serta kemampuan foresight dan insight untuk mendukung efektivitas tata kelola yang baik.

"Telah diidentifikasi bahwa di tingkat global, berdasarkan kajian konsultan PwC tentang Risk Roadmap 2026, dunia akan memasuki fase risk convergence, yaitu ketika risiko teknologi, geopolitik, iklim, ekonomi hijau, dan governance failures saling mempengaruhi dan
memperkuat dampak satu sama lain," tuturnya.

Dalam hal ini, dia menyebut Indonesia berada pada kategori "Accelerated Exposure with Transitional Readiness", sebuah posisi yang mencerminkan tingginya peluang ekonomi, namun juga meningkatnya eksposur risiko yang membutuhkan penguatan tata kelola digital, cyber resilience, sustainability accountability, dan outcomebased governance di berbagai sektor.

Nusriadi yang menjadi peserta dalam seminar itu mengatakan bahwa perubahan global dan nasional yang akan bersinggungan dengan beberapa dinamika kunci, yakni ekspansi QRIS ke pasar internasional yang menuntut digital trust architecture yang tangguh, kebutuhan penguatan AI governance dan mitigasi algorithmic bias.

Dirjen Pemeriksaan Keuangan Negara VI BPK Dr. Laode Nusriadi menyampaikan sejumlah rekomendasi penting dalam Seminar Nasional Internal Audit (SNIA) 2025.

Read Entire Article
| | | |