Tantangan Transformasi Pesantren Menjaga Tradisi dan Keilmuan

4 days ago 22

KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam. Foto: source for JPNN

jpnn.com - RAMADAN selalu menyuguhkan fenomena unik dan antik di dalam pesantren. Tidak tergerus waktu, kiai, santri dan alumni, semua berburu ngaji posoan (khusus Ramadan) dengan sistem bandongan. Inilah salah satu warisan tradisi pendidikan pesantren yang berjalan berabad-abad. Bandongan tetap hidup ditengah laju pesantren yang makin modern.

Pesantren menjadi lembaga pendidikan tertua di nusantara, sejak abad 15 Masehi. Mewariskan sistem pendidikan, ideologi, filosofi dan tradisi yang mengakar didalam kehidupan masyarakat. Dan dalam sejarahnya, pesantren tidak pernah dijajah oleh sistem kolonial. Bahkan, menjadi perintis dan basis perlawanan masyarakat terhadap penjajahan.

Dari sejarah pula, sebagian tokoh-tokoh besar nusantara ditempa dari dan dipengaruhi oleh kehidupan pesantren. Termasuk para tokoh dimasa pergerakan nasional, merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia serta menghadapi pemberontakan dan melawan gerakan PKI. Fakta ini bisa diidentifikasi dari perjalanan bangsa dari sabang hingga merauke.

Dalam konteks itu, kontribusi pesantren tidak hanya fenomenal, tapi monumental yang memiliki dimensi di tingkat komunal, bangsa dan negara. Bahwa, pesantren tidak hanya menyebarkan ajaran universal Islam ke seluruh nusantara, tapi telah menyatu dengan denyut nadi masyarakat beserta rasa nasionalisme melalui hubungan timbal balik dalam merespon perubahan sosial yang dinamis.

Pesantren sesuai dasar kehidupannya menjadi lembaga ta’lim wa ta’allum li tafaqquh fi al-din (belajar mengajar untuk mendalami ilmu agama) dan tarbiyah; mendidik kepribadian muslim yang mulia. Semua dilakukan sesuai tradisi pengajaran dan pendidikan santri secara turun temurun berdasar sanad guru dan pendahulunya.

Transformasi Pesantren Berbasis Tradisi

KH Abdul Wahid Hasyim (Gus Wahid), putra Hadratussyeikh KH M. Hasyim Asy’ari, pendiri pesantren salafiyah syafi’iyyah Tebuireng, Jombang, adalah sosok ulama muda yang mendobrak tradisi pengajaran di pesantren. Bukan tanpa alasan, berdasar keluasan ilmu, pengalaman dan wawasan global, KH Wahid Hasyim melakukan terobosan-terobosan dalam sistem pembelajaran pesantren.

Berangkat dari fakta bahwa kontribusi pesantren selama itu, luar biasa untuk perubahan sosial dan bangsa. Disisi lain, model persekolahan yang diselenggarakan atas kebijakan ‘politik etis’ Hindia Belanda telah menghasilkan tokoh-tokoh pergerakan dan para teknokrat sebagai pamong praja (pegawai negeri) di pemerintahan.

Langkah berani Gus Wahid Hasyim mentransformasi pendidikan pesantren menandai adanya perubahan orientasi.

Read Entire Article
| | | |