Transisi Energi yang Tetap Menjaga Daya Saing Industri

1 hour ago 28

Didik Prasetiyono saat menjadi panelis pada (ISEW)–IndoSolar 2026. Foto: Source for JPNN

jatim.jpnn.com, SURABAYA - Indonesia sedang memasuki babak yang lebih menentukan dalam transisi energi. Selama beberapa tahun terakhir, banyak pembicaraan berfokus pada target bauran energi, penambahan pembangkit terbarukan, penurunan emisi, dan pengurangan ketergantungan pada energi fosil. Target-target tersebut penting karena memberi arah bagi investasi dan kebijakan.

Namun, setelah target ditetapkan, pekerjaan yang lebih rumit justru dimulai: bagaimana membangun sistem energi yang semakin bersih tanpa mengurangi keandalan pasokan listrik, membebani perekonomian, atau melemahkan daya saing industri.

Persoalan tersebut mengemuka dalam Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) 2026 yang diselenggarakan bersamaan dengan IndoSolar 2026 di Jakarta pada 19–20 Agustus 2026. Tema hari pertama, From Targets to Action: Delivering Indonesia’s Energy Transition, terasa relevan karena pembicaraan mulai bergeser dari besarnya potensi dan target energi terbarukan menuju persoalan implementasi: akses jaringan, kesiapan sistem, regulasi, pembiayaan, serta kemampuan konsumen untuk memperoleh energi rendah karbon.

Dalam sesi mengenai reformasi sektor ketenagalistrikan, pemerintah, PLN, industri, asosiasi energi surya, dan praktisi hukum duduk dalam satu forum untuk melihat persoalan yang sama dari kepentingan yang berbeda.

Arah kebijakan nasional semakin jelas. RUPTL PLN 2025–2034 merencanakan penambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi sebesar 69,5 gigawatt (GW) dalam sepuluh tahun. Sebanyak 42,6 GW berasal dari energi baru terbarukan (EBT), sementara 10,3 GW berupa sistem penyimpanan energi. Tenaga surya melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) mendapat porsi tambahan terbesar, 17,1 GW, disusul hidro 11,7 GW, angin 7,2 GW, panas bumi 5,2 GW, dan bioenergi 0,9 GW.

Apabila EBT dan penyimpanan energi digabungkan, sekitar 76 persen tambahan kapasitas yang direncanakan hingga 2034 berasal dari keduanya. Arah ini menunjukkan perubahan penting dalam pembangunan ketenagalistrikan di Indonesia.

Namun, besarnya kapasitas terpasang belum mencerminkan seluruh persoalan. Satu gigawatt kapasitas PLTS memiliki karakter produksi yang berbeda dengan satu gigawatt pembangkit yang dapat beroperasi hampir sepanjang waktu. PLTS menghasilkan listrik sesuai dengan ketersediaan sinar matahari, sementara pembangkit angin bergantung pada kondisi angin.

Ketika porsi kedua sumber tersebut semakin besar, sistem membutuhkan penyimpanan energi, pembangkit yang fleksibel, interkoneksi, prakiraan produksi yang semakin akurat, serta jaringan yang mampu mengelola perubahan pasokan dari waktu ke waktu.

Panelis pada (ISEW)–IndoSolar 2026 Didik Prasetiyono memberikan opini terkait transisi energi untuk menjaga daya saing industri.

Read Entire Article
| | | |