jateng.jpnn.com, SEMARANG - Konsep agroforestri kakao mulai didorong sebagai solusi pembangunan lanskap berkelanjutan sekaligus penguatan ekonomi petani. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada satu komoditas, tetapi menggabungkan berbagai tanaman dalam satu sistem yang saling mendukung.
Direktur Pusat Sains Lanskap Berkelanjutan Institut Pertanian Stiper (PSLB Instiper) Yogyakarta Agus Setyarso mengatakan tengah mengembangkan konsep smart agroforestry untuk menjawab berbagai tantangan di sektor pertanian dan kehutanan.
“Smart agroforestry ditandai dengan kemampuannya meningkatkan resiliensi terhadap kemiskinan, menjaga tata air, memperkuat ekonomi lokal, serta menjawab tantangan bencana alam,” ujar Agus di KP2 Instiper Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (15/4).
Program ini merupakan kerja sama CIRAD dengan PSLB Instiper melalui INDOKAKAO yang mendorong pendekatan Smart Agroforestry sebagai strategi peningkatan produktivitas sekaligus penguatan ekonomi petani.
Menurutnya, konsep tersebut juga diarahkan agar mampu menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Dengan demikian, pertanian tidak lagi dipandang sebagai sektor tradisional yang kurang menjanjikan.
Agus menjelaskan agroforestri cerdas tidak bergantung pada satu komoditas seperti kakao semata. Sistem ini justru mengombinasikan berbagai tanaman seperti kopi, karet, kelapa sawit, teh, kelapa hingga aren.
“Usaha pertanian tidak boleh bergantung pada satu komoditas. Harus ada diversifikasi sehingga antar-komoditas saling mengisi dan memperkuat,” katanya.
Selain itu, pihaknya juga menyesuaikan pendekatan dengan karakter generasi muda, khususnya generasi Z. Mereka dinilai memiliki gaya hidup yang berbeda, termasuk kebutuhan finansial untuk gaya hidup seperti rekreasi, travelling, hingga pembaruan perangkat digital.

















































