jatim.jpnn.com, SURABAYA - Perkembangan teknologi digital telah membawa manfaat besar bagi kehidupan sosial, ekonomi, dan pendidikan. Aktivitas komunikasi, transaksi, hingga layanan publik kini bergantung pada perangkat digital yang semakin canggih.
Namun, di balik kemudahan tersebut, ancaman siber juga berkembang dengan pola yang jauh lebih kompleks dan sulit dikenali. Terungkapnya sistem spyware bernama Graphite yang dikaitkan dengan Paragon Solutions menjadi pengingat bahwa keamanan digital hari ini tidak lagi sekadar soal virus atau peretasan konvensional.
Berbeda dengan serangan siber generasi sebelumnya, spyware modern bekerja secara senyap di dalam sistem operasi perangkat, bukan hanya menyerang jaringan internet.
Dalam kajian keamanan informasi, pola seperti ini kerap dikaitkan dengan Advanced Persistent Threats (APT), yakni serangan terstruktur yang menargetkan sistem inti dan mampu bertahan lama tanpa terdeteksi.
Laporan ENISA Threat Landscape 2023 menunjukkan bahwa eksploitasi kerentanan perangkat, termasuk teknik zero-click exploit, serangan tanpa perlu korban mengklik apa pun, terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Artinya, perangkat dapat terinfeksi tanpa tanda-tanda yang mudah dikenali pengguna.
Kondisi ini menantang asumsi umum tentang rasa aman di ruang digital. Banyak pengguna merasa terlindungi karena menggunakan aplikasi dengan sistem end-to-end encryption seperti WhatsApp, Telegram, dan Signal.
Secara teknis, enkripsi memang melindungi pesan selama proses pengiriman melalui jaringan. Namun, kajian di bidang endpoint security menunjukkan apabila sistem operasi ponsel telah disusupi, pesan dapat diakses sebelum terenkripsi atau setelah didekripsi.
Dengan demikian, persoalan mendasarnya bukan hanya pada jalur komunikasi, melainkan pada keamanan perangkat itu sendiri.
















































