jpnn.com - Setiap tanggal 21 April selalu kita peringati Hari Kartini sebagai hari emansipasi wanita. Idealnya, Hari Kartini jangan cuma kebaya-an dan lomba masak. Kalau berhenti di situ, kita kalah di perang pikiran, di tengah derasnya informasi serta pengaruh budaya dan politik demi kepentingan lain yang menyusup melalui media sosial dan tayangan media elektronik.
Bahwa refleksi 21 April seharusnya membuat kita “terang” benar-benar, bukan sekadar seremonial seperti fenomena jaman saat ini di masa Reformasi yang kerap menuntut Emansipasi namun tidak tahu apa itu terang dan apa itu di balik gelap
Pertama-tama, kita luruskan fakta sejarahnya agar “terang” benderang, terutama terkait peran Sosrokartono yang sering dikaburkan:
Fakta Sejarah Terbitnya Habis Gelap Terbitlah Terang
Aspek Fakta: Bukan buku karangan Kartini tapi buku yang diterbitkan yang isinya 108 surat Kartini kepada sahabat Belandanya tahun 1899–1904, paling banyak kepada Rosa Abendanon dan Stella Zeehandelaar.
Yang menyusun & menerbitkan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama & Kerajinan Hindia Belanda, sekaligus suami Rosa Abendanon. Terbit pertama tahun 1911 di Belanda dengan judul Door Duisternis tot Licht.
Diterjemahkan ke Indonesia Tahun 1922 oleh Balai Pustaka dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Armijn Pane yang menerjemahkan.
Tujuan Abendanon menerbitkan untuk mendukung politik etis: pendidikan bagi pribumi, terutama perempuan. Namun isinya justru menjadi senjata anti-kolonial karena membongkar borok feodalisme dan penjajahan ini yang menggetarkan Pemerintahan belanda saat itu.




















































