jpnn.com, SURABAYA - Utari, warga Panjang Jiwo, Surabaya harus menjadi tulang punggung bagi keluarganya lantaran pada 2019 suaminya mengalami kecelakaan yang menyebabkan cedera serius hingga tidak bisa bekerja lagi, tepat saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia.
Dalam kondisiter jepit, wanita 58 tahun tersebut memanfaatkan satu-satunya keahlian yang dimilikinya yaitu menjahit untuk bertahan hidup.
"Waktu itu saya bingung mau pinjam modal kemana. Kemudian saya mendengar informasi tentang PNM Mekaar. Ada tetangga yang bilang, 'Coba ke Mekaar saja'. Waktu itu saya sempat bertanya, Mekaar itu apa?" ungkap Utari.
Berawal dari pembiayaan PNM Mekaar sebesar Rp2 juta pada 2019, di mana Rp1 juta dipakai untuk membeli mesin jahit bekas dan sisanya untuk bahan baku, Utari kini mengelola usah atas souvenir yang pesanannya datang dari berbagai daerah, bahkan mampu menyekolahkan kedua anaknya hingga lulus perguruan tinggi.
Tujuh tahun berselang, pinjaman Utari telah tumbuh menjadi Rp8 juta, dan dia mampu membuka lapangan pekerjaan untuk empat penjahit di sekitarnya.
Kini, lima tulang punggung keluarga saling bahu membahu dalam proses produksi. Membuktikan bahwa pemberdayaan seorang perempuan mampu menggerakkan ekonomi di sekelilingnya.
Direktur Utama PNM, Kindaris, melihat langsung perjuangan Utari sebagai seorang ibu rumah tangga yang mampu bangkit dari titik nol dan kini menjadi pengusaha yang mandiri.
Kindaris menegaskan bahwa inilah makna sejati pemberdayaan PNM.






















































