jpnn.com, JAKARTA - Pakar energi dari Universitas Indonesia Ali Ahmudi Achyak menilai pengembangan bioetanol dari sorgum merupakan gagasan yang tepat.
Pasalnya, masyarakat Indonesia lebih sedikit yang mengkonsumsi sorgum dibanding beras, jagung dan gandum.
“Agar tidak mengganggu ketahanan pangan,” ujar Ali.
Peneliti bioenergi itu mengatakan persyaratan lahan untuk menanam sorgum tidaklah sulit.
Lebih lanjut ia mengatakan sorgum bisa tumbuh di lahan yang kering, kurang air, di lahan bekas hutan gundul, hingga di daerah-daerah pesisir pantai yang kering.
“Kalau dikembangkan, misalnya di pesisir selatan Jawa, kemudian NTT, NTB, di pesisir barat Sumatera, itu bisa besar dan menjadi pasokan bioetanol,” kata Ali.
Di sisi lain, kata dia, bila pemerintah mengembangkan bioetanol dari bahan-bahan pangan pokok, seperti tebu, singkong, hingga jagung, dikhawatirkan bioetanol mengganggu program ketahanan pangan.
Ali berpandangan, bila pemerintah akan menggunakan tebu untuk pengembangan bioetanol, pemerintah harus betul-betul menghitung berapa kebutuhan gula dibanding produksi tebu nasional agar tidak mengganggu ketahanan pangan.






















































