jpnn.com, JAKARTA - Pengamat otomotif Martinus Pasaribu mengatakan kendaraan listrik menjadi langkah strategis meredam tekanan lonjakan harga minyak dunia.
Menurut dia sekitar 60-70 persen kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi dari impor, sementara lifting minyak domestik terus menurun dan berada di kisaran 600 ribu barel per hari.
"Kondisi tersebut, membuat APBN rentan terhadap gejolak harga minyak dunia, terutama di tengah eskalasi konflik geopolitik seperti di Selat Hormuz," ujar Martinus dalam keterangannya, Selasa (31/3).
Martinus menjelaskan dalam asumsi makro APBN kenaikan harga minyak sebesar USD 1 per barel dapat meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi hingga sekitar Rp 8-10 triliun.
Dengan realisasi harga minyak dunia yang dapat menembus USD 90-100 per barel, total belanja subsidi energi berpotensi kembali membengkak melampaui Rp 300 triliun per tahun.
Karena itu, kendaraan listrik menjadi solusi jangka panjang karena mampu mengurangi konsumsi BBM secara signifikan.
Sebab, selain menekan impor, peralihan ke listrik juga membantu mengurangi kebutuhan subsidi BBM yang selama ini sebagian besar dinikmati oleh sektor transportasi.
Dia mengatakan dari sisi efisiensi kendaraan listrik jauh lebih hemat.




















































