jpnn.com, JAKARTA - Deputi Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Ekonomi ASEAN Satvinder Singh mengatakan bahwa kolaborasi regional sangat penting untuk memperkuat sistem pangan dan rantai pasok di Asia Tenggara.
Hal itu disampaikan oleh Satvinder saat ASEAN Food & Beverage Alliance (AFBA) bersama Oxford Economics pada Rabu (1/4) meluncurkan laporan bertajuk “Economic Insights : Unlocking Indonesia’s Agri-Food Powerhouse”.
“Pertanian bukan sekadar sebuah sektor tetapi sekaligus tulang punggung sejati bagi ekonomi, ketahanan pangan dan stabilitas sosial kita. ASEAN merepresentasikan pasar konsumen yang dinamis dengan 700 juta orang dan semua pihak harus menjaga serta menumbuhkan pasar ini secara efektif bersama-sama melalui kerangka kerja," ungkap Satvinder Singh.
Didukung oleh Food Industry Asia (FIA), laporan ini menegaskan peran strategis sektor agribisnis dalam mendorong penciptaan lapangan kerja, investasi serta perdagangan di Indonesia.
Peluncuran laporan ini mempertemukan pembuat kebijakan, pemimpin industri dan pemangku kepentingan regional untuk membahas bagaimana sektor agribisnis dapat dioptimalkan sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan daya saing Indonesia di kawasan ASEAN.
Adapun kerangka kerja tersebut lanjut Satvinder meliputi ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) yang telah ditingkatkan dan Digital Economy Framework Agreement (DEFA).
"Kami menyediakan kepastian hukum dan konektivitas yang diperlukan bagi bisnis global untuk berkembang di kawasan ini," lanjut Satvinder.
Pada pidato utama, Leonardo A. A. Teguh Sambodo, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup di Kementerian PPN/Bappenas, memaparkan arah transformasi sektor agribisnis dalam visi Indonesia Emas 2045.




















































