jateng.jpnn.com, SEMARANG - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi memicu kenaikan harga obat di Indonesia. Kondisi itu dipengaruhi oleh ketergantungan industri farmasi nasional terhadap bahan baku dan komponen obat impor.
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua IDI Kota Semarang Prihatin Iman Nugroho mengatakan potensi kenaikan harga obat akibat melemahnya kurs rupiah memang terbuka lebar. Sebab, sebagian besar bahan baku obat yang digunakan industri farmasi masih didatangkan dari luar negeri.
"Jadi memang dengan adanya kenaikan kurs dolar terhadap rupiah, potensi terjadinya peningkatan harga obat itu ada," kata Prihatin kepada JPNN.com, Minggu (14/6).
Menurutnya, harga obat tidak hanya dipengaruhi biaya produksi, tetapi juga biaya distribusi dan rantai pasok yang sebagian masih bergantung pada komponen impor. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya yang harus ditanggung industri farmasi berpotensi meningkat dan pada akhirnya dapat berdampak pada harga jual obat di pasaran.
Meski demikian, hingga saat ini IDI Kota Semarang belum menerima laporan adanya kenaikan harga obat yang mengganggu pelayanan kesehatan di wilayah tersebut.
"Untuk di Kota Semarang sendiri, sejauh yang kami tangkap saat ini masih belum kami dengar adanya pergerakan atau perubahan harga obat yang berpotensi menyebabkan gangguan pelayanan," ujarnya.
Sebelum pelemahan rupiah dan kenaikan harga bahan bakar terjadi, Prihatin menyebut sejumlah obat untuk penyakit kronis sempat mengalami kelangkaan di tingkat distributor. Beberapa di antaranya adalah amlodipin dan klonidin yang umum digunakan untuk terapi hipertensi.
"Memang sudah ada beberapa obat yang kosong produksinya. Apakah ini terkait langsung dengan proses terjadinya kenaikan dolar atau bukan, ini masih bisa diperdebatkan," katanya.



















































