bali.jpnn.com, DENPASAR - Pertumbuhan bisnis di kawasan Asia Pasifik memasuki fase baru.
Lonjakan kebutuhan data, otomatisasi proses bisnis, hingga pesatnya adopsi akal imitasi alias artificial intelligence (AI) memaksa perusahaan untuk meredefinisikan cara mereka beroperasi dan bersaing.
Dalam lanskap baru ini, komputasi tidak lagi dipandang sebagai sekadar dukungan teknis, melainkan aset strategis yang menentukan produktivitas dan pertumbuhan jangka panjang.
Meningkatnya penggunaan AI dan analitik tingkat lanjut secara langsung menuntut infrastruktur teknologi yang jauh lebih kuat.
Ketika model dan beban kerja (workload) kian kompleks, perusahaan membutuhkan platform yang dapat ditingkatkan nilainya (scalable) secara efisien tanpa mengorbankan performa maupun boros energi.
Arsitektur komputasi modern kini bergerak menuju model konsolidasi, menyajikan kapasitas pemrosesan raksasa dalam jejak infrastruktur fisik yang jauh lebih ringkas.
“Komputasi bukan lagi sekadar fungsi pendukung, melainkan inti dari pertumbuhan bisnis.
Di tengah pesatnya adopsi AI, efisiensi infrastruktur bukan lagi sebuah pilihan, melainkan landasan utama untuk menjaga daya saing di masa depan,” ujar General Manager APAC Alexey Navolokin.



















































