bali.jpnn.com, DENPASAR - Menjelang perhelatan Festival Penjor yang kini memasuki tahun ketiga, tradisi dan kreativitas Yowana (pemuda-pemudi) di Desa Serangan, Denpasar, kembali menggeliat.
Perhelatan tahun ini terasa semakin istimewa karena diselenggarakan khusus untuk menyambut rangkaian suci Pujawali Pura Dalem Sakenan, yang bertepatan dengan peringatan Hari Raya Galungan pada 17 Juni 2026 dan Hari Raya Kuningan pada 27 Juni 2026.
Festival ini melibatkan pemuda-pemudi dari enam banjar adat di Desa Serangan, di antaranya Dukuh, Peken, Ponjok, Kawan, dan Banjar Tengah.
Bagi masyarakat Hindu Bali, penjor bukan sekadar bambu melengkung indah berhias janur dan hasil bumi yang memanjakan mata.
Penjor adalah simbol rasa syukur dan sarana upacara yang sangat esensial. Lewat jemari terampil para yowana, tradisi ini terus hidup, relevan, dan lestari.
"Penjor secara tradisional melambangkan gunung sebagai sumber kesucian dan kemakmuran.
Penjor bermakna ungkapan terima kasih kepada bumi karena telah menyediakan tempat tinggal dan kesejahteraan manusia," ujar Sekretaris Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) I Ketut Budiasa.
Sebagai bagian dari persiapan pre-event festival, sejak beberapa pekan terakhir masing-masing banjar mulai disibukkan dengan koordinasi awal dan pengumpulan bahan baku penjor.



















































