jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang Kalimantan sepanjang musim kemarau 2026 berada dalam kondisi darurat bagi kelestarian satwa.
Pemantauan terbaru dari Geopix, sebuah organisasi advokasi dan riset tentang lingkungan, mengungkapkan bahwa mayoritas titik api (hotspot) yang terdeteksi di Pulau Kalimantan berada tepat di dalam wilayah habitat orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus).
Berdasarkan analisis overlay data titik api Kementerian Kehutanan periode 1 Juni – 28 Agustus 2026 dengan peta sebaran tiga subspesies orang utan (P.p. pygmaeus, P.p. wurmbii, dan P.p. morio), ditemukan lonjakan titik api yang sangat masif.
Dari total 22.744 hotspot yang terdeteksi di seluruh Kalimantan, 17.865 titik atau 78,5 persen berada di dalam wilayah habitat orang utan. Puncak lonjakan ekstrem terjadi pada Agustus 2026 yang menyumbang 17.250 titik api.
Kebakaran melalap sekitar 25,8 juta hektar lahan, yang mencakup 60,2 persen dari total 42,8 juta hektar luas habitat Orangutan Kalimantan.
Geopix memetakan kerentanan habitat berdasarkan interaksi antara jumlah populasi dan kerapatan titik api untuk menentukan prioritas penanganan.
Wilayah Pengunungan Muller-Schwaner, Pegunungan Schwaner, dan Seruyan-Sampit menjadi area paling terancam.
Populasinya yang kecil harus berhadapan dengan kerapatan titik api yang tinggi sehingga membutuhkan pemadaman dan respon darurat segera.



















































