bali.jpnn.com, UBUD - Denting gamelan berpadu dengan aroma kopi dan jajanan menggema di pagi yang hangat di Yayasan Cahaya Mutiara Ubud, Gianyar.
Di ruang sederhana yang terasa seperti rumah, para penyandang disabilitas daksa tampak tekun berlatih tari, menganyam, memahat, hingga menata galeri kerajinan.
Aktivitas yang tampak sederhana itu menyimpan makna besar: ruang kecil ini adalah tempat di mana kepercayaan diri kembali tumbuh, dan mimpi kembali menemukan jalannya.
Dikelola oleh para difabel sejak awal berdirinya, Yayasan Cahaya Mutiara Ubud adalah potret nyata bahwa keterbatasan bukan akhir.
Justru menjadi titik mula untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri dan bermakna.
Keyakinan itulah yang kemudian dipertemukan dengan dukungan Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Ngurah Rai dalam program pemberdayaan Sahabat Disabilitas Ubud.
Bagi Ni Nengah Warni, Ketua Pengurus Yayasan sekaligus penari dan atlet difabel, ruang untuk berkarya jauh lebih penting dari sekadar bantuan.
"Kami ingin menunjukkan bahwa kami mampu.


















































