Krisis Selat Hormuz Berlanjut, Waka MPR Eddy Ingatkan Waspada Persaingan Impor Migas

3 hours ago 14

Krisis Selat Hormuz Berlanjut, Waka MPR Eddy Ingatkan Waspada Persaingan Impor Migas

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno meminta Direktorat Jendral Migas Kementerian ESDM dan Pertamina mewaspadai persaingan impor migas. Foto: dok MPR RI

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno meminta Direktorat Jendral Migas Kementerian ESDM dan Pertamina mewaspadai persaingan impor migas oleh negara-negara yang memiliki ketergantungan impor dari Timur Tengah lebih besar dari Indonesia.

“Saat ini Indonesia mengimpor 20 persen kebutuhan migasnya dari Timur Tengah. Selebihnya diimpor dari Nigeria, Angola, Australia bahkan Brazil. Artinya, Indonesia mampu mengandalkan dan bahkan meningkatkan suplai migasnya dari negara-negara di luar Timur Tengah saat pasokan migas dari Timur Tengah terhenti akibat penutupan lalu lintas migas yang melalui Selat Hormuz," kata Eddy.

Namun, Eddy menyampaikan Indonesia perlu mencermati negara-negara lain seperti Cina, India, Jepang dan Korea Selatan yang memiliki volume impor yang lebih besar dari Indonesia, baik secara angka absolut maupun dari sumber Timur Tengah.

“Cina misalnya mengimpor migas sekitar 11 juta barel per hari, disusul India sekitar 6 juta barel per hari dan Jepang serta Korsel di kisaran 2-2.5 juta barel per hari," tuturnya.

Dia menambahkan jika volume impor Cina dan India dari Timur Tengah sekitar 55-60 persen dan Jepang serta Korsel mengandalkan Timur Tengah untuk 80-90 persen pasokan migasnya.

"Maka penutupan Selat Hormuz akan membuat negara-negara tersebut segera mengalihkan impor migasnya dari sumber-sumber lain yang juga menjadi pemasok migas bagi Indonesia. Dengan kata lain, Indonesia bisa “berebut” pasokan minyak dan gasnya dengan negara-negara importir raksasa lainnya,” jelas Eddy.

Doktor Ilmu Politik UI ini meminta agar Pertamina mengantisipasi skenario terburuk dalam hal pasokan terganggu dan harga migas melonjak lebih tinggi dari saat ini.

“Pertama, kami perlu memastikan bahwa komitmen negara-negara pemasok migas untuk Indonesia tidak tergoyahkan. Kedua, kita perlu mengantisipasi lonjakan harga migas yang lebih tinggi lagi dalam hal terjadi kerusakan atau penghancuran ladang dan infrastruktur migas di negara-negara penghasil migas terbesar seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait dan Bahrain, yang akhir-akhir ini dihujani oleh peluru kendali Iran secara masif,".

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno meminta Direktorat Jendral Migas Kementerian ESDM dan Pertamina mewaspadai persaingan impor migas.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |