Tim medis dari Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta berhasil menjangkau wilayah Sengari, Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Foto: PMI DKI Jakarta
KabarJakarta.com — Jalan yang tertutup material longsor sempat membuat wilayah Sengari, Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), sulit dijangkau. Namun, kondisi itu tidak menghentikan langkah tim medis Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta untuk memberikan pertolongan kepada warga terdampak gempa bumi yang mengguncang Flores beberapa waktu lalu.
Setelah berhari-hari menghadapi kendala akses, tim medis akhirnya tiba di Sengari. Kehadiran para dokter, perawat, dan relawan PMI langsung disambut antusias warga yang telah menunggu layanan kesehatan di tengah keterbatasan fasilitas medis.
Setibanya di lokasi, tim tidak menunggu lama. Pos pelayanan kesehatan darurat didirikan di area terbuka yang juga digunakan sebagai tempat pengungsian. Klinik lapangan kemudian dioperasikan untuk melayani warga yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Tim kesehatan tersebut terdiri atas dokter dan perawat dari PMI Provinsi DKI Jakarta bersama Rumah Sakit PMI Bogor. Mereka diterjunkan untuk memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak bencana.
Dari pendataan awal, ratusan warga telah mendapatkan pemeriksaan. Sebagian mengalami luka ringan hingga sedang akibat tertimpa reruntuhan bangunan, material konstruksi, maupun batuan yang longsor dari perbukitan ketika gempa terjadi.
Ketua PMI DKI Jakarta, Beky Mardani, menjelaskan maksud pengerahan personel ke daerah yang sulit dijangkau merupakan bagian dari komitmen PMI dalam menjalankan misi kemanusiaan.
“PMI DKI selalu terpanggil dan bersiap dalam operasi kemanusiaan yang lebih besar. Kami terus menunggu arahan dan siap berkoordinasi dengan PMI Pusat agar langkah yang dilakukan benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan,” ujar Beky, Kamis (20/8).
Menurut dia, dukungan yang diberikan PMI DKI tidak sebatas mengirimkan tenaga medis dan relawan. Organisasi tersebut juga membuka donasi untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang masih terdampak gempa.
“Selain menyiapkan tenaga kesehatan dan relawan, PMI DKI juga melakukan open donasi untuk membantu meringakan beban korban di sana,” tuturnya.
Bantuan, kata Beky, akan disalurkan berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Tim yang sudah berada di lokasi terus menyampaikan laporan mengenai kebutuhan masyarakat sehingga bantuan dapat diberikan secara lebih tepat.
“Tim kami yang sudah di lokasi bencana selalu melaporkan kondisi di lapangan. Dengan begitu, bantuan yang kami bawa bisa sesuai dengan kebutuhan warga di sana,” katanya.
Di tengah keterbatasan akses, penanganan korban dilakukan dengan memprioritaskan tingkat kegawatan. Proses triase diterapkan untuk menentukan korban yang membutuhkan pertolongan lebih dahulu. Korban dengan luka berat atau kondisi kritis mendapatkan tindakan medis darurat sebelum dievakuasi ke fasilitas kesehatan rujukan.
“Pelayanan diberikan dengan memprioritaskan kebutuhan paling mendesak, utamanya bagi korban luka dan kelompok masyarakat yang butuh penanganan medis segera,” ucap Beky.
Namun, evakuasi tidak selalu mudah. Kerusakan infrastruktur dan material longsor masih menghambat perjalanan melalui jalur darat. Sejumlah ruas jalan belum dapat dilalui secara optimal sehingga pasien dengan kondisi serius harus mendapatkan alternatif evakuasi.
Dalam beberapa kasus, korban diterbangkan menggunakan helikopter menuju rumah sakit rujukan. Evakuasi dilakukan secara bertahap agar pasien memperoleh penanganan yang lebih lengkap dan sesuai dengan tingkat kegawatannya.
PMI juga terus berkoordinasi dengan unsur SAR gabungan, TNI, Polri, pemerintah daerah, serta organisasi kemanusiaan lainnya untuk membuka akses menuju wilayah terdampak.
Bagi warga Sengari, kedatangan tim medis bukan sekadar menghadirkan dokter dan obat-obatan. Di tengah jalan yang terputus, fasilitas kesehatan yang terbatas, serta kondisi pascabencana yang belum sepenuhnya pulih, kehadiran para relawan menjadi tanda bahwa mereka tidak dilupakan.
Beky memastikan operasi kemanusiaan akan terus dipantau dan disesuaikan dengan perkembangan situasi.
“Prinsipnya, kami akan terus melakukan koordinasi. Apa yang menjadi kebutuhan masyarakat di lapangan, akan menjadi dasar kami dalam menentukan bantuan berikutnya,” ucapnya.
Hingga kini, operasi kemanusiaan masih berlangsung. Pemeriksaan kesehatan, pendataan korban, evakuasi pasien, dan distribusi bantuan dilakukan secara bertahap seiring terbukanya akses menuju wilayah-wilayah yang terdampak gempa.
Bagi para relawan, setiap jalan yang berhasil ditembus berarti satu peluang baru untuk menjangkau warga yang membutuhkan pertolongan. Di Sengari, perjuangan menembus longsoran akhirnya membawa layanan kesehatan lebih dekat kepada masyarakat yang bertahan di tengah situasi pascabencana.

7 hours ago
27

















































