jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Fenomena fear of missing out (FOMO) atau takut tertinggal tren gaya hidup di kalangan generasi Z menjadi sorotan banyak pihak, salah satunya Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Gen Z yang dipengaruhi media sosial hingga lingkungan pertemanan, membuat mereka melakukan berbagai cara agar tetap bisa terlihat trendy dan tidak ketinggalan zaman. Bukan tidak mungkin, penggunaan Pay Later menjadi jalan pintas yang kerap diambil.
Kepala OJK Jawa Barat, Darwisman mengatakan, fenomena doom spending atau kebiasaan menghabiskan uang secara impulsif untuk berbelanja sebagai pelampiasan stres, salah satu pemicunya adalah adalah perasaan takut tertinggal dengan teman-temannya, khususnya untuk lingkup gaya hidup.
"Fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti FOMO dan YOLO (You Only Live Once). Selain itu banyak generasi muda yang sangat aktif memanfaatkan berbagai fasilitas pinjaman, baik melalui layanan paylater, pembiayaan, maupun pinjaman daring (pinjol)," kata Darwisman di Bandung, Sabtu (13/6/2026).
Darwisman menjelaskan, karena takut tertinggal, Gen Z menggunakan jalan pintas dengan memakai Pay Later atau pinjaman daring (Pindar). Berdasarkan data OJK, jumlah pengguna pinjaman daring hampir mencapai 8 juta orang.
"Saat ini, jumlah pengguna pinjaman daring hampir mencapai 8 juta orang, sedangkan jumlah nasabah BPR hanya sekitar 700 ribu orang. Padahal, BPR sudah hadir dan melayani masyarakat selama puluhan tahun," tuturnya.
Selain itu, perilaku konsumtif dengan membeli barang yang tidak sesuai kebutuhan juga jadi permasalahan yang perlu dicarikan solusinya.
Menurut Darwisman, Gen Z cenderung memiliki tabungan tanpa perencanaan keuangan yang matang.



















































