jatim.jpnn.com, SURABAYA - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) buka suara terkait rencana pemindahan lokasi penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 ke Bangkalan, Madura, apabila Presiden Prabowo Subianto menghadiri agenda tersebut.
PBNU menegaskan keputusan tersebut bukan karena adanya mitos yang menyebut seorang presiden akan mengalami nasib buruk apabila berkunjung ke Kediri, melainkan semata-mata karena penyesuaian jadwal Presiden Prabowo.
Katib Aam Syuriyah PBNU sekaligus Ketua Steering Committee Munas dan Konbes NU KH Mohammad Nuh mengatakan, Bangkalan dipilih karena memiliki makna simbolik dalam sejarah Nahdlatul Ulama.
Menurut dia, Bangkalan merupakan tanah kelahiran Syaikhona Kholil, ulama kharismatik yang memiliki peran besar dalam perjalanan sejarah NU.
"Jadi itu simbolik sebenarnya. Antara Syaikhona Kholil dengan yang ada di Jawa Timur dengan pondok itu menjadi satu kesatuan," kata M Nuh, Jumat (19/6).
M Nuh menjelaskan awalnya PBNU merencanakan pembukaan Munas-Konbes NU digelar di Bangkalan dan mengundang Presiden Prabowo untuk hadir.
Namun, karena Presiden memiliki agenda lain pada waktu pembukaan, maka PBNU mengubah skema acara dengan menjadikan Bangkalan sebagai lokasi penutupan.
"Kami memang mendesain pembukaannya di Bangkalan dan mengundang presiden. Tetapi karena beliau masih ada tugas, sehingga bisanya pada saat penutupan," ujarnya.











.jpeg)





































