jpnn.com, JAKARTA - Demokrasi semestinya menjadi panggung adu ide, bukan arena adu ejekan fisik.
Namun belakangan, politik kita justru gemar bermain di wilayah paling remeh, yakni tubuh manusia mulai wajah, cara berjalan, hingga ekspresi.
Semuanya bisa dijadikan senjata untuk menutupi kemiskinan argumen.
Dalam catatan pengamat hukum dan politik Dr Pieter C Zulkifli, fenomena body shaming politik disebutkan sebagai gejala serius menurunnya etika dan nalar elite.
Mantan Ketua Komisi III DPR RI ini menegaskan ketika kritik kehilangan data dan gagasan, ejekan fisik menjadi jalan pintas yang tampak lucu, tetapi sesungguhnya berbahaya bagi kualitas demokrasi dan kecerdasan publik.Berikut ini catatan lengkapnya.
Bagi Pieter Zulkifli, demokrasi idealnya adalah arena adu gagasan, bukan lomba mencela raga.
Namun yang belakangan kita saksikan justru sebaliknya, politik Indonesia kerap tergelincir ke wilayah paling dangkal, yaitu tubuh manusia.
“Dari perubahan kulit wajah Presiden Joko Widodo yang dipelintir menjadi 'karma', ejekan atas cara berjalan dan postur Prabowo Subianto, hingga olok-olok terhadap raut wajah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Body shaming politik menjelma senjata murah dalam pertarungan kekuasaan,” kata Pieter Zulkifi dalam keterangannya, Jakarta, Rabu, 28 Januari 2026.






















































