jpnn.com, JAKARTA - Di tengah anggapan singkong hanyalah komoditas bernilai rendah, Nurlaela berhasil membuktikan bahwa bahan pangan sederhana itu dapat menjadi penggerak perubahan sosial dan ekonomi masyarakat desa.
Salah satu Binaan Desa Emas Program kolaborasi Yayasan Indonesia Setara dan Inotek itu mampu memproduksi keripik singkong presto dan nori daun singkong.
Nurlaela tidak hanya membangun usaha, tetapi juga menciptakan peluang hidup yang lebih baik bagi perempuan, petani, dan keluarga prasejahtera di sekitarnya.
“Terimakasih Bapak Sandiaga Uno, Mashaallah saya bersyukur sekali, dapat pelatihan ekspor, perbaikan kemasan, foto produknya jadi lebih bagus, desain kemasan dibuatkan yang baru,” ucap Nurlaela.
Dia juga mengaku juga diberikan alat bantu produksi.
“Alhamdulilah saya juga bisa ikut pameran di Jakarta, bisa ketemu dengan pembeli yang luar biasa hebatnya, dan sampai saat ini banyak sekali konsumen yang mau beli produk-produk saya dari luar kota," ujar Nurlaela.
Berawal dari keprihatinannya melihat hasil panen singkong petani yang sering tidak laku dan hanya dihargai sekitar Rp 300 per kilogram, Nurlaela mulai bereksperimen mengolah singkong menjadi produk bernilai tambah.
Dari dapur rumahnya, ia berhasil mengembangkan keripik singkong presto dan kemudian menciptakan nori berbahan daun singkong yang memanfaatkan limbah pertanian yang sebelumnya kurang bernilai.






















































