jpnn.com - BANDUNG - Pengamat politik Rocky Gerung menantang kalangan akademisi menguji secara metodologis gagasan ekonomi, Prabowonomics.
Rocky Gerung menyampaikan tantangan itu dalam acara peluncuran buku "Menggugat Republik (Politik, Keadilan Sosial, dan Kemandirian Bangsa)" karya Syahganda Nainggolan di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (5/3).
Dalam acara yang diselenggarakan GREAT Institute itu, Rocky Gerung mengatakan istilah Prabowonomics mulai memunculkan percakapan akademik karena dianggap mengandung metodologi dan ideologi tertentu dalam ekonomi politik.
“Kita bicara tentang Prabowo. Saya tidak pernah tahu apa pikiran Prabowo sampai akhirnya dia sinopsiskan dalam istilah Prabowonomics. Maka timbul percakapan akademis,” kata Rocky dalam paparannya dikutip Sabtu (7/3).
Menurut Rocky, ketika sebuah konsep ekonomi sudah diberi nama, maka otomatis menjadi genre dalam diskursus ilmu ekonomi dan harus diuji secara akademik.
“Begitu disebut Prabowonomics, orang berpikir ada metodologi di situ, ada ideologi di situ. Tugas intelektual adalah membongkar secara metodologi,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Rocky Gerung juga menyinggung struktur ekonomi Indonesia yang menurutnya sudah digariskan dalam konstitusi.
Dia menyebut ada tiga pilar utama dalam sistem ekonomi nasional, yaitu korporasi, badan usaha milik negara (BUMN), dan koperasi.



















































