jpnn.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi bergerak menguat 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp 17.950 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.995 per USD.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian memandang stabilisasi nilai tukar rupiah saat ini masih membutuhkan peningkatan aliran masuk (inflow) modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) sehingga memperkuat keseimbangan di pasar valuta asing.
“Rupiah pada dasarnya sedang menunggu capital inflow yang lebih besar,” kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (3/7).
Fakhrul mengatakan guna menghasilkan arus masuk modal yang berkelanjutan pasar obligasi Indonesia perlu menawarkan tingkat imbal hasil yang cukup menarik dibandingkan risiko global yang masih tinggi.
“Investor asing memang mulai kembali membeli obligasi Indonesia, tetapi menurut saya proses tersebut masih berada pada tahap awal,” imbuh dia.
Fakhrul menilai pelemahan rupiah yang masih terjadi saat ini perlu dilihat sebagai bagian dari proses penyesuaian pasar keuangan, bukan sebagai cerminan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.
Menurutnya, Indonesia saat ini telah memasuki fase stabilisasi setelah berbagai penyesuaian kebijakan moneter dan pengelolaan likuiditas yang dilakukan Bank Indonesia (BI).
Fakhrul juga menjelaskan bahwa proses stabilisasi nilai tukar tidak terjadi secara instan.





















































