jpnn.com, JAKARTA - Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah dan turun ke bawah level psikologis USD 90.000 dolar pada perdagangan Rabu, seiring meningkatnya tensi geopolitik dan aksi jual di pasar aset berisiko.
Pelemahan Bitcoin ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang tarif Amerika Serikat (AS) terhadap Eropa, yang dikaitkan dengan tekanan Washington kepada Denmark agar mempertimbangkan kembali kendalinya atas Greenland.
Kemudian ada juga gejolak di pasar obligasi Jepang yang memicu sentimen risk-off secara luas.
Menurut Vice President Indodax Antony Kusuma mengatakan, pergerakan ini mencerminkan keterkaitan kripto yang semakin erat dengan dinamika makroekonomi dan geopolitik global.
"Dalam situasi seperti ini, Bitcoin tidak berdiri sendiri. Ketika pasar global masuk ke fase risk-off akibat ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan tekanan di pasar obligasi, aset berisiko cenderung mengalami koreksi secara bersamaan akibat aksi jual," ujarnya.
Menurut dia, kepanikan jangka pendek kerap muncul ketika investor global berusaha menyeimbangkan ulang portofolio investasi mereka di tengah ketidakpastian.
Hal ini terlihat dari meningkatnya volatilitas, lonjakan volume perdagangan, serta tekanan di pasar derivatif kripto.
Dia menegaskan pergerakan ini lebih didorong oleh faktor eksternal, bukan perubahan fundamental di ekosistem Bitcoin dan kripto.






















































