jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Operasi pencarian dan evakuasi kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang menabrak Gunung Bulusaruang resmi ditutup pada Jumat malam (23/1). Penemuan black box (kotak hitam) menjadi titik krusial bagi Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mengungkap penyebab pasti jatuhnya pesawat yang sempat hilang kontak sejak Sabtu (17/1).
Sepuluh jenazah korban telah ditemukan oleh tim SAR gabungan. Hingga saat ini, proses identifikasi oleh tim DVI Polri masih berlangsung, sementara beberapa jenazah yang telah teridentifikasi sudah diserahkan kepada pihak keluarga.
Fokus kini beralih sepenuhnya pada analisis teknis terhadap puing pesawat dan black box untuk menganalisis penyebab kecelakaan pesawat rute Yogyakarta-Makassar itu.
Dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Muhammad Agung Bramantya mengatakan black box adalah instrumen paling vital dalam dunia penerbangan untuk memahami kondisi riil sebelum kecelakaan.
Perangkat ini terdiri dari dua bagian utama, yaitu Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).
"Penyelidik dapat melihat parameter kondisi penerbangan melalui FDR sekaligus mendengar situasi dan komunikasi di kokpit melalui CVR. Meskipun pembacaan data awal membutuhkan waktu beberapa hari hingga dua minggu, analisis mendalam oleh KNKT tetap diperlukan agar hasilnya akurat," ujar Bramantya dalam keterangannya, Senin (26/1).
Informasi awal dari KNKT mengarah pada dugaan kesalahan navigasi terhadap medan di sekitar Gunung Bulusaruang.
Bramantya berpendapat bahwa faktor cuaca ekstrem, seperti kabut tebal dan hujan deras, kemungkinan besar menjadi pemicu utama.



















































