jpnn.com, JAKARTA - Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Bachtiar Utomo, mengatakan bahwa berbagai kritik yang meragukan capaian swasembada beras tidak sejalan dengan kondisi riil di lapangan. Pernyataan itu disampaikan untuk merespons polemik yang berkembang, termasuk kritik dari Feri Amsari, yang dinilai tidak mencerminkan fakta aktual sektor pertanian nasional.
Menurut Bachtiar, kunjungan langsung Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono ke sejumlah gudang Perum Bulog menjadi bukti konkret kondisi pangan nasional.
Bachtiar menyatakan, pemerintah tidak bekerja berdasarkan asumsi. Fakta di lapangan menunjukkan cadangan beras pemerintah dalam kondisi sangat kuat. “Gudang-gudang terisi optimal dan distribusi terpantau dengan baik,” kata Bachtiar kepada wartawan di Jakarta, Minggu (19/4).
Dia menekankan bahwa hasil pantauan langsung memperlihatkan stok beras nasional berada pada level tinggi, bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah. Kondisi ini mencerminkan kesiapan negara dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga. Selain itu, Bachtiar menyoroti peningkatan produksi nasional yang signifikan dalam satu tahun terakhir, didorong oleh perluasan area tanam, perbaikan infrastruktur irigasi, serta kebijakan yang lebih berpihak kepada petani.
“Ini bukan sekadar angka di atas kertas. Produksi meningkat nyata, panen bertambah, dan petani merasakan langsung dampaknya,” tegasnya.
Lebih lanjut, dia menyatakan bahwa kombinasi antara stok yang melimpah dan produksi yang terus meningkat menjadi indikator kuat bahwa Indonesia berada di jalur yang benar menuju swasembada beras.
“Kalau stok penuh dan produksi naik, maka arah swasembada itu bukan lagi wacana, tetapi proses yang sedang berjalan dan semakin mendekati target,” kata Bachtiar.
Terkait kritik yang dilontarkan Feri Amsari, Bachtiar menilai pernyataan tersebut tidak hanya keliru tetapi juga berpotensi menimbulkan kegaduhan di kalangan petani. Menurutnya, pernyataan yang tidak berbasis data lapangan justru memicu keresahan. “Banyak petani merasa apa yang mereka capai hari ini seolah diabaikan. Ini yang kemudian memunculkan protes,” ujarnya.




















































