jpnn.com - Banner bertuliskan 'Shut Up KDM' yang terbentang di tribune utara Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) saat laga Persib Bandung vs Arema FC menjadi sorotan publik.
Tulisan yang muncul pada babak kedua itu langsung memicu beragam spekulasi di kalangan penonton maupun publik sepak bola nasional.
Banyak yang mempertanyakan maksud di balik pesan yang ditujukan kepada Gubernur jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Bobotoh sekaligus Sekretaris Umum Viking Persib Club (VPC), Arland Sidha, menuturkan, bahwa kemunculan banner itu berangkat dari keresahan yang berkembang di kalangan suporter Persib.
"Pertama flashback dahulu, ada keresahan apa soal Persib? Sebenarnya kalau dilihat, Persib ini punya modal sosial yang tinggi, artinya modal sosial ini berupa suporter dan Bobotoh," kata Arland saat dihubungi, Minggu (26/4/2026).
Menurutnya, di kalangan Bobotoh muncul persepsi terkait keterlibatan figur politik dalam dinamika Persib. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan anggapan bahwa klub dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.
"Saya pikir ada pemahaman di tengah-tengah Bobotoh, kehadiran sosok dalam tanda kutip elite politik atau kepala daerah, yang dipahami masyarakat bisa saja memiliki kepentingan tertentu, saya tidak tahu kepentingannya apa, mungkin terkait elektabilitas," ujarnya.
Arland menegaskan tidak menjadi masalah ketika seorang tokoh politik memang sejak awal merupakan pendukung Persib. Namun, persoalan muncul ketika dukungan tersebut dinilai terlalu masuk ke ranah klub secara berlebihan.




















































