jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat capaian positif dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026.
Meski indeks akses dan pemahaman masyarakat Jogja terhadap sektor keuangan melampaui rata-rata nasional, OJK DIY masih mengantongi pekerjaan rumah (PR) besar untuk memangkas kesenjangan (gap) di antara keduanya.
Kepala OJK DIY Eko Yunianto mengungkapkan bahwa indeks literasi keuangan DIY pada 2026 menyentuh angka 76,44 persen, berada di atas rata-rata nasional sebesar 69,57 persen.
Sedangkan indeks inklusi keuangan DIY melonjak tinggi hingga 98,74 persen, juga melampaui angka nasional yang berada di level 93,61 persen.
Kendati angka penggunaan layanan keuangan sudah sangat tinggi, OJK mencatat masih ada celah atau gap sekitar 20 persen antara warga yang memanfaatkan produk keuangan dengan yang benar-benar memahaminya.
"Capaian tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya memiliki akses yang kuat terhadap layanan keuangan, tetapi juga memiliki pemahaman yang relatif baik walaupun masih ada gap sekitar 20 persen," ujar Eko dalam acara Media Gathering OJK dan Media Massa DIY di Purwokerto, Kamis (3/9).
Eko mengatakan selisih inilah yang menjadi tantangan utama bagi organisasinya. Target OJK DIY ke depan adalah mendongkrak indeks literasi agar bisa mendekati indeks inklusi keuangan.
"Artinya masyarakat yang menggunakan produk dan layanan jasa keuangan ini juga sudah memahami terkait dengan manfaat dan risiko dari produk dan layanan jasa keuangan yang digunakan itu," kata dia.



















































