Rico Marbun: Film Pesta Babi Berpotensi Menjadi Instrumen Kampanye Disintegrasi

4 hours ago 12

 Film Pesta Babi Berpotensi Menjadi Instrumen Kampanye Disintegrasi

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Alumnus S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Singapura, Rico Marbun Rico Marbun. Foto: Kenny Kurnia Putra/JPNN.com

jpnn.com - Kritik terhadap film Pesta Babi disampaikan alumnus S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Singapura, Rico Marbun. Dia menilai pemutaran film dokumenter itu berpotensi digunakan sebagai instrumen untuk kampanye yang mengarah pada narasi disintegrasi Papua.

Hal itu disampaikan Rico setelah mencermati pola pemutaran film dokumenter itu menunjukkan gejala yang harus dicermati secara serius.

Menurut Rico, lambat laun semakin kuat tercium aroma bahwa film Pesta Babi tidak lagi diposisikan hanya sebagai kritik sosial atau kritik terhadap program pembangunan.

"Cara film ini dipromosikan, diputar, dan dibingkai dalam berbagai forum menunjukkan kecenderungan mengarah pada kampanye politik identitas yang berpotensi memperlebar jarak antara Papua dan Indonesia," kata Rico Marbun dalam keterangannya, Jumat (5/5/2026).

Dia mengatakan salah satu indikator yang terlihat adalah pilihan bahasa, narasi, serta mobilisasi kelompok-kelompok tertentu yang mengiringi pemutaran film tersebut. Rico menilai berbagai aktivitas pendukung film sering kali mengangkat framing yang menempatkan Indonesia sebagai kekuatan kolonial atau penjajah di Papua.

Framing semacam itu menurutnya bukan sekadar kritik terhadap kebijakan negara. Narasi Indonesia sebagai penjajah memiliki konsekuensi politik yang sangat serius karena secara implisit berupaya menegasikan sejarah perjuangan bersama seluruh rakyat Indonesia, termasuk rakyat Papua, dalam melawan kolonialisme Belanda.

Rico menyebut narasi demikian setidaknya memiliki dua tujuan. Pertama, membangun persepsi internasional bahwa Papua merupakan wilayah yang sedang mengalami penjajahan. Kedua, menciptakan jarak psikologis antara masyarakat Papua dan masyarakat Indonesia lainnya yang selama ini hidup dalam ikatan kebangsaan yang sama.

"Padahal, rakyat Papua adalah bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia. Mereka adalah saudara sebangsa yang juga memiliki kontribusi dalam perjuangan dan pembangunan nasional," ujarnya.

Kritik terhadap film Pesta Babi disampaikan alumnus S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Singapura, Rico Marbun.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |