jpnn.com, JAKARTA - Kepala Program Studi Kriminologi Institut Andi Sapada, Tegar Bimantoro menanggapi insiden ledakan di Kawasan Dadaha, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat pada Minggu (12/7/2026) pagi.
Tegar menduga pelaku ledakan adalah seorang mantan narapidana kasus terorisme (eksnapiter) berinisial A bermula setelah terjadi perselisihan di antara sesama pedagang kaki lima (PKL).
Tegar menilai aksi nekat terduga pelaku yang masih memiliki dan menggunakan amunisi aktif menjadi bukti nyata adanya celah dalam sistem pengawasan pemerintah.
Celah Pengawasan dan Validasi Data Eksnapiter
Tegar menegaskan insiden ini melempar sejumlah pertanyaan krusial yang harus segera dijawab oleh aparat penegak hukum dan instansi terkait.
"Pertanyaan mendasar yang harus digali saat ini adalah: dari mana tersangka mendapatkan amunisi tersebut? Mengapa bisa terjadi kelalaian dalam pemantauan?" ujar Tegar.
Lebih lanjut, ia mendesak pemerintah untuk segera melakukan pemetaan ulang (mapping) guna mendeteksi berapa banyak eksnapiter di luar sana yang masih memiliki kemampuan taktis dan akses terhadap bahan peledak seperti terduga pelaku berinisial A.
Masalah Labor Mismatch dan Minimnya Anggaran Pemantauan






















































