Bonnie Triyana Sebut Potensi Pariwisata Budaya Lebih Besar dari Pertambangan

2 hours ago 14

Bonnie Triyana Sebut Potensi Pariwisata Budaya Lebih Besar dari Pertambangan

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panitia Kerja Pelestarian Cagar Budaya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (28/1). Foto: Dokpri

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana menyatakan bahwa pariwisata dan kebudayaan yang berkelanjutan memiliki nilai ekonomi sangat besar dan dapat menjadi pilar pemasukan negara, menggantikan ketergantungan pada sektor pertambangan yang bersifat ekstraktif. Pernyataan ini disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panitia Kerja Pelestarian Cagar Budaya di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Bonnie memaparkan data kontribusi sektor pariwisata yang mencapai sekitar seribu triliun rupiah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan kemampuannya menyerap 25 juta tenaga kerja.

"Kalau kita bandingkan total dari sektor pariwisata di Bali itu output ekonominya dan juga tenaga kerja yang bergerak di bidang pariwisata itu bisa lebih besar ketimbang sektor pertambangan yang ada di Papua," ujarnya, Rabu (28/1).

Ia menegaskan, "Dengan kata lain, kalau kita mau serius atau mau menyeriusi pariwisata ini kita nggak perlu lagi membuka tambang secara masif. Karena pariwisata itu lebih sustainable dan tidak melakukan destruksi, kerusakan alam, lingkungan, dan juga bukan hal yang saya kira ekstraktif."

Dalam kesempatan itu, anggota Fraksi PDI Perjuangan itu menyoroti persoalan konkret di lapangan, seperti di Situs Cagar Budaya Muara Jambi, Jambi. Ia mengungkapkan bahwa kawasan cagar budaya seluas 3 ribu hektare di sana tumpang tindih dengan aktivitas pertambangan batu bara. "Bahkan ada beberapa temuan arkeologis di sana yang ketimbun sama stokpile-nya batu bara," kata Bonnie.

Bonnie juga menekankan pentingnya membangun narasi yang kuat dan konsisten dalam pengelolaan destinasi wisata budaya. Ia membandingkan dengan kisah fiksi Hans Brinker di Belanda yang sukses menjadi magnet wisata.

"Kalau misalkan di Sumatera Barat kita punya, siapa namanya dulu? Siti Nurbaya. Baling Gundang. Nah ini kan kita tuh gak tekun, kita tuh penyakitnya inisiatif banyak, tapi gak tekun dikelola," ucapnya.

Menurutnya, faktor keramahan atau hospitality masyarakat lokal juga menjadi kunci utama. Bonnie mengkritik praktik penembakan harga di destinasi wisata seperti yang pernah terjadi di Carita, Banten.

Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana mendorong pariwisata budaya berkelanjutan sebagai pengganti pemasukan dari tambang.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |