jpnn.com, JAKARTA - Pendiri The Centre for Indonesian Crisis Strategic Resolution (CICSR) Muhammad Makmun Rasyid menyayangkan pembubaran diskusi publik dan ilmiah di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Sebab, kata dia, tindakan pembubaran mencederai semangat akademik sekaligus menunjukkan lunturnya etika intelektual di kalangan mahasiswa.
Makmum mengatakan sejarah menempatkan mahasiswa sebagai kelompok dengan kapasitas berpikir dan keberanian menyampaikan gagasan, bukan pengerahan massa.
"Itulah kenapa mahasiswa disebut dengan agen perubahan, karena mereka menyampaikan kritik dan ide berbasis nalar,” ujar Makmun melalui layanan pesan, Rabu (17/6).
Diketahui, ramai mahasiswa menggeruduk acara diskusi yang menghadirkan tiga pejabat negara di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Senin (15/6) malam. Adapun, pejabat yang hadir dalam forum ialah Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.
Menurut Makmum, perbedaan pandangan sebenarnya hal wajar di lingkungan kampus dan perlu dikelola melalui dialog.
“Kampus yang sehat ialah kampus yang mampu mengelola perbedaan dengan dialog, bukan melalui penolakan atau pembubaran," katanya.
Dia berpandangan kehadiran pejabat negara maupun pihak-pihak yang memiliki perspektif tertentu di lingkungan kampus seharusnya menjadi kesempatan civitas academica menguji kualitas argumentasi secara terbuka dan ilmiah.








.jpg)













































