jateng.jpnn.com, SEMARANG - Sebuah kisah tentang pengkhianatan, luka keluarga, dan kerasnya tuntutan revolusi tersaji di Gedung Oudetrap, Little Netherlands Semarang, Rabu malam (26/11).
Penonton yang hadir larut dalam pementasan Fajar Siddiq, naskah karya Emil Sanossa yang dibawakan Teater Teding oleh sutradara Nasrun M. Yunus.
Para aktor A. Sofyan Hadi, Anton Sudibyo, Imaniar Yordan C., Wikha Setyawan, dan Daniel Hakiki menghidupkan cerita tentang pertaruhan moral, penyesalan dan pergulatan batin seorang ayah saat berhadapan dengan tuntutan keadilan revolusi.
Lakon Fajar Siddiq dibuka dengan tragedi Ahmad, seorang pemuda yang dituduh berkhianat karena membocorkan lokasi persembunyian pasukan gerilya kepada tentara Belanda.
Aksinya menyebabkan pondok pesantren milik ayahnya sendiri, Haji Jamil dibakar.
Sebelum eksekusi mati dijalankan, pimpinan pasukan gerilya, Marjoso memberi kelonggaran. Ahmad diperbolehkan meminta maaf kepada ayahnya. Dari percakapan itulah inti drama berawal.
Di atas panggung, Sofyan Hadi yang memerankan Haji Jamil tampil menggetarkan. Wajahnya memerah, suaranya bergetar menahan amarah dan kekecewaan kepada anak yang dulu dirinya banggakan.
Dia bahkan menyebut Ahmad layak digantung dan menolak mengakui hubungan darah.



















































