KabarJakarta.com- Tulisan ini tentang Internet Platform, AI System, dampaknya ke media massa dan publik, serta apa yang mesti kita lakukan.
Internet Platform
NOISE. Ribut dan riuh di kerumunan (crowd). Semua orang memegang pengeras suara. Semua orang didengar –dan mendengar. Melihat dan dilihat. Begitulah Internet Platform –yang menghubungkan data dan informasi dari berbagai perangkat (devices)– membuka akses ke semua orang untuk mencari, memproses, dan mendistribusikan informasi.
Incentive system-nya advertising. Kiblatnya advertiser, pemasang iklan. Makin murah unit cost (misalnya, biaya per impression), makin bagus. Agar makin murah, Internet Platform mendorong semua orang untuk berproduksi, memproduksi informasi.
Cara kerjanya: attention. Siapa yang mendapatkan perhatian terbanyak, ya, dia terbaik. User engagement (klik, share, comment) jadi metrics utama. Sistem mendorong engagement. Artinya, makin riuh makin bagus. Siapa yang riuh, dia akan dapat iklan lebih banyak. Meng-capture market lebih bagus.
Sistem ini –yang dimulai 1998 dengan Google dan 2004 dengan Facebook– memunculkan banyak hal bagus: democratize. Semua orang bisa menjadi kreator, influencer, tokoh, artis, pedagang. Semua orang bisa mengontrol apa yang ingin dia baca, apa yang dia ingin lupakan. Kontrol berpindah dari segelintir orang, segelintir institusi. Kontrol berpindah ke individu, ke semua orang.
Internet Platform mengubah pondasi lebih dalam lagi. Democratize tidak hanya di sisi produksi, tapi juga di sisi bisnis. Dengan pengeras suara di tangannya, semua orang bisa berdagang: berdagang citra (reputasi), berdagang kue, berdagang jasa (misalnya, menjadi tukang ojek online).
Bermunculan infrastruktur baru: server (tempat penyimpanan data, cloud), alat pembayaran online, security, dan seterusnya. Pedagang online bermunculan, membuat asosiasi. Media baru bermunculan, berkumpul dalam asosiasi. Di industri pers, misalnya, muncul 50 ribuan media baru –sesuatu yang mustahil sebelum Internet Platform bisa diakses publik.
Tapi, ada biayanya. Mahal sekali. Misinformasi, disinformasi, opini publik, demokrasi, tertib sosial. Media dan bisnis tradisional tumbang, PHK di mana-mana. Lembaga-lembaga sosial lama, bahkan institusi keagamaan, mendapatkan tantangan baru. Ada yang pergi, ada yang datang. Ada yang tumbang, muncul yang baru.
AI System
Kita sedang mengarungi dunia baru, dunia yang diciptakan oleh Internet Platform, ketika teknologi AI bisa diakses publik melalui ChatGPT, November 2022.
AI System adalah power, kekuatan, yang karakternya berbeda. Meski sama-sama enable karena internet, AI berbeda: incentive system dan cara kerja. Karena itu, dampaknya juga akan berbeda.
AI atau Artificial Intelligence adalah sistem, sama dengan Internet Platform. Bedanya: sistem ini diberi tugas menjalankan pekerjaan manusia (to perform human tasks). Agar bisa menjalankan fungsi itu, sistem itu diberi kemampuan berpikir seperti manusia. Dia memiliki kemampuan kecerdasan –seperti manusia.
AI dilatih, pre-trained. AI tidak diprogram (pre-programmed) seperti Internet Platform. Karena dia dilatih, AI memiliki kemampuan self improvement. Artinya, kalau AI dilatih berjalan, dia akan berjalan. Tapi lebih dari itu, dia bisa berjalan cepat, kemudian berlari –dan bisa sambil menyanyi. Dia bisa menjadi otonom.
AI, seperti manusia, bisa mengenali teks (jadi, dia bisa tahu, ooo “ini kota” atau “ini nama orang”). AI juga bisa memahami gambar (images), suara, dan suara-gambar (audio-visual). Informasi yang masuk ke “pancaindra” AI itu diolah, dibuat polanya, dan dibuat prediksinya (prediksi inilah jawaban yang di-trigger oleh prompt).
Jadi, mesin AI, yang dilatih berjalan, bisa sambil berjalan, melihat, mengenali, memproses informasi dan menghasilkan informasi baru. Dia entitas, yang seperti manusia, memiliki kemampuan mencari, mengolah, dan mendistribusikan informasi baru.
AI bisa membuat keputusan sendiri, menghasilkan keputusan yang sebelumnya tidak diprogram. Internet Platform, sementara itu, hanya retrieve, menarik informasi yang sudah tersedia di jaringan internet. Hasil Google Search, misalnya: hanya mencari informasi yang sudah ada. Google Search tidak membuat kalimat sendiri. Dia tidak bisa berpikir sendiri, membuat keputusan sendiri. Google Search, dengan demikian, hanya melayani manusia. Dia tidak bersaing dengan manusia.
Jadi, ketika kita berbicara tentang AI, penting dipahami: Kita sedang membicarakan satu entitas yang memiliki kecerdasan, yang kecerdasan bisa self improve, yang bisa mengalahkan kecerdasan manusia (karena dia tidak tidur, dia bekerja 24 jam, dan karena dia bekerja dengan belajar dari seluruh data dan informasi yang publicly accessible).
AI belajar (learning), kemudian memiliki kemampuan bernalar (reasoning) dan membuat keputusan (make a decision) dari data dan informasi yang bisa diakses secara publik: website, buku (bayangkan tentang buku serius karya Einstein, sastra seperti karya Shakespeare), hasil penelitian, lukisan (misalnya, lukisan Monalisa), video, bahkan laporan keuangan dalam bentuk Excel.
Yang ingin dikatakan adalah AI tidak hanya mengelola informasi di website berita. Sumber “bacaannya” lebih kaya, lebih luas, lebih dalam dibandingkan dengan Internet Platform yang hanya mengandalkan website.
AI tidak dalam kerumunan seperti Internet Platform. Dia tidak suka crowd, noise, keributan. Dia tenang, sistematis, logik, serius, terpola. AI ini seperti seorang profesor di ruang konferensi. Kacamatanya tebal, mukanya terlihat tegang, mimik serius, dan kalimat-kalimat demi kalimat yang dia ucapkan berbobot akademis. Audiensnya pun “orang yang serius” atau orang yang mengharapkan sesuatu yang “berbobot”.
Dalam ruang konferensi, semua orang boleh bersuara. Tapi tidak semua suara didengar. Hanya yang berbobot. Hanya yang argumentasinya kuat. Hanya yang reputasinya diakui.
Incentive system AI bukan advertising, setidaknya saat ini. Business model AI adalah subscription. Kiblat dia adalah pelanggan (subscriber), bukan advertiser. KPI utama AI adalah menghasilkan informasi yang berbobot, terpercaya –bukan user engagement.
Dua elemen utama –informasi yang berbobot dan tidak suka noise– akan menjadi game changer ekosistem media. AI tidak mendorong media (sumber informasi) yang sebanyak-banyaknya agar harga iklan murah: AI mendorong media yang trusty. Dorongan ini akan mengubah landscape media secara signifikan.
AI memilih sumber informasi yang terpercaya karena setidaknya dua alasan. Satu, biaya. Makin banyak dan makin lama menjelajah, biaya produksinya akan makin mahal. Kedua, makin banyak mengecek sumber berita atau informasi, makin noise, makin bingung dia memilih mana yang bisa dipercaya.
Perubahan setidaknya mulai terlihat di dua level. Pertama, peran website berita. Jika di era Internet Platform, website berita adalah landing page (karena itu bisnis iklannya tumbuh), maka di era AI, website berita akan menjadi pemasok berita bagi mesin AI. Business model-nya adalah licensing.
Kedua, di area distribusi, AI (persisnya, generative AI berbentuk chatbot seperti ChatGPT, Gemini, atau Copilot) menjadi platform distribusi berita, seperti peran yang saat ini dimainkan Google Search, agregator, dan website berita.
Perubahan itu fundamental seperti perubahan dari koran/majalah ke website, dari TV tradisional ke YouTube atau TikTok, dari radio tradisional ke Spotify.
Dari sisi distribusi, kita menyaksikan perubahan signifikan peran website berita. Sementara platform sosial media dan video, sepertinya, belum mengalami perubahan signifikan karena peran platform sosial media dan video memiliki fungsi lain selain mendistribusikan berita: mereka platform hiburan.
Nasib Umat Manusia
Tantangan terbesar dari sisi publik, dari sisi regulator. Bagaimana menempatkan AI agar fungsinya bisa dimanfaatkan optimal, pada saat yang sama, dampak negatifnya bisa dimitigasi.
Bayangkan AI adalah alat seperti pistol. Bukan sembarang pistol. Dia senjata api mematikan yang bisa memutuskan sendiri siapa sasarannya, kapan menembak, dengan cara apa, di mana. Pistol ini tidak diprogram tapi dilatih.
Regulasi kita mengatur secara ketat siapa yang boleh memegang pistol dan dipakai untuk apa. Bagaimana dengan pistol berbentuk AI?
AI bukan cuma pistol. Dia mesin yang memproses, menghasilkan, serta mendistribusikan informasi. Karena dia self improve dan menjadi sumber informasi, seperti media, AI memiliki kemampuan membentuk opini publik, membangun collective imagination.
Harap ingat: Pancasila, gotong royong, sopan santun, budaya, dan bahkan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah collective imagination. Kita membangunnya. Kita mempercayainya. Dia dibangun bertahun-tahun, membentuk persepsi setiap orang, menggerakkan, membentuk kita hari ini.
Karena perannya membangun collective imagination –yang kita kenal dengan pendapat publik (karena itu instrumen penting dalam negara demokrasi)– pers diatur dengan sangat ketat. Kode Etik Jurnalistik, misalnya, mengatur bagaimana mencari, mengolah, dan mendistribusikan berita. Ketika mencari berita, misalnya, wartawan harus memperkenalkan diri. Dia tidak boleh berlagak seperti intel.
Jadi, wartawan tidak hanya dituntut mendistribusikan berita yang berguna untuk publik, tapi juga dituntut mencari berita dalam bingkai etik yang melindungi publik.
Berita yang didistribusikan, untuk menyebut satu contoh lagi, harus sudah benar, harus sudah cek dan ricek.
AI, setidaknya saat ini, tidak demikian. Mulai dari proses mengumpulkan informasi (learning), memproses informasi (reasoning), sampai mendistribusikan informasi (dalam bentuk hasil prompting), AI bebas leluasa.
Satu lagi. Pistol bernama AI ini belum sempurna. Dia masih sering halusinasi. Sering ngawur. Hal lain, dia masih sangat lemah di sisi perlindungan hak cipta, copyrights.
Sistem atau entitas yang begitu powerful, yang diakui belum sempurna, sudah bisa diakses publik. Bayangkan kalau entitas itu adalah “pistol cerdas”. Dia bisa membunuh seorang bayi tidak berdosa, tapi juga bisa melindungi penggunanya dari perampok.
Bayangkan kalau entitas cerdas itu, yang bisa mendistribusikan informasi yang masih mengandung elemen halusisasi –atau bahkan membawa sistem nilai yang berbahaya, seperti bias– bisa diakses semua orang. Dia bisa membantu meningkatkan produktivitas manusia, tapi pada saat yang sama, dia bisa membangun collective imagination yang baru.
Kalau kita membiarkan demikian, maka kita menyerahkan nasib kita, nasib umat manusia, juga nasib NKRI, pada mahluk yang belum kita atur sama sekali.
Pada akhirnya, “kerumunan” dan “profesor” sedang membentuk dunia yang kita nikmati dan akan wariskan ke generasi berikutnya. Pilihan tersedia di depan kita: kita mengontrolnya atau membiarkannya mengontrol kita.

7 hours ago
22

















































