Virus Nipah Jadi Sorotan, Gubernur DKI Pastikan Jakarta Masih Nihil Kasus

1 week ago 21

KabarJakarta.com – Penyebaran virus Nipah kini tengah menjadi perhatian publik setelah sejumlah laporan internasional menyoroti potensi penularannya yang berbahaya. Kekhawatiran masyarakat pun ikut meningkat, termasuk di Jakarta, menyusul isu kewaspadaan penyakit zoonotik yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan. Meski demikian, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan hingga kini belum ditemukan kasus virus Nipah di wilayah Ibu Kota.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan kondisi tersebut dalam keterangannya kepada awak media. Ia menyebut Jakarta masih dalam situasi aman, namun tetap meningkatkan kewaspadaan.

“Virus Nipah sekali lagi, alhamdulillah sampai hari ini di Jakarta belum ditemukan yang terkena virus Nipah,” ujar Pramono, Rabu (3/2/2026).

Asal-usul Virus Nipah dan Faktor Lingkungan

Dilansir dari ayosehat.kemkes.go.id, virus Nipah pertama kali teridentifikasi di Malaysia pada sebuah peternakan babi. Saat itu, hewan ternak menunjukkan gejala seperti demam, kesulitan bernapas, hingga kejang. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa virus Nipah berasal dari kelelawar buah yang menularkannya ke babi.

Kelelawar diketahui sebagai reservoir alami virus Nipah. Artinya, virus tersebut tidak menimbulkan penyakit pada kelelawar, tetapi dapat berpindah ke hewan lain, seperti babi, dan kemudian ke manusia. Perubahan lingkungan menjadi salah satu faktor utama penyebaran virus ini.

Penebangan hutan menyebabkan kelelawar kehilangan habitat alaminya. Kondisi tersebut mendorong kelelawar berpindah mendekati pemukiman manusia dan area peternakan, sehingga meningkatkan risiko penularan virus dari satwa liar ke hewan ternak dan manusia.

Cara Penularan Virus Nipah

Virus Nipah termasuk dalam kelompok Paramyxovirus, yakni virus RNA yang juga menjadi penyebab penyakit lain seperti pneumonia, gondongan, dan campak. Namun, virus Nipah memiliki karakteristik khusus yang membuatnya berpotensi menimbulkan dampak serius.

Penularan virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti air liur, darah, dan urine. Selain itu, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi daging hewan terinfeksi, terutama jika dimasak tidak matang, juga berisiko menularkan virus.

Tidak hanya dari hewan ke manusia, virus Nipah juga dapat menular antarmanusia. Penularan ini terjadi melalui kontak langsung dengan pasien yang terinfeksi, terutama ketika pasien menghasilkan banyak cairan tubuh, seperti air liur.

Gejala Infeksi yang Perlu Diwaspadai

Setelah terpapar, virus Nipah memiliki masa inkubasi sekitar 4–14 hari sebelum gejala muncul. Tingkat keparahan gejala sangat bervariasi, mulai dari ringan hingga berat dan mengancam jiwa.

Gejala awal yang dapat muncul meliputi demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, sesak napas, muntah, dan kesulitan menelan. Pada kondisi tertentu, infeksi virus Nipah dapat berkembang menjadi peradangan otak atau ensefalitis.

Ensefalitis akibat virus Nipah dapat menyebabkan kantuk berlebihan, gangguan konsentrasi, disorientasi, hingga perubahan suasana hati secara signifikan. Pada kasus berat, infeksi ini berisiko menyebabkan kematian.

Langkah Pencegahan dan Antisipasi Pemerintah

Mencegah penularan virus Nipah menjadi langkah krusial untuk melindungi masyarakat. Beberapa upaya pencegahan yang dianjurkan antara lain menghindari kontak langsung dengan hewan berisiko seperti kelelawar dan babi, mencuci sayur dan buah sebelum dikonsumsi, serta memastikan daging dimasak hingga matang sempurna.

Selain itu, penggunaan alat pelindung diri saat membersihkan kotoran atau urine hewan berisiko, serta kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air bersih, menjadi langkah penting dalam memutus rantai penularan.

Meski belum ada laporan kasus di Indonesia, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat potensi penularan virus ini yang cepat.

Pemprov DKI Tingkatkan Kesiapsiagaan

Menanggapi isu yang berkembang, Pramono Anung mengaku telah berkoordinasi langsung dengan Menteri Kesehatan untuk memastikan kesiapan Jakarta dalam menghadapi potensi risiko.

“Kemarin waktu berkomunikasi dengan Bapak Menteri Kesehatan, mudah-mudahan Jakarta segera mengantisipasi untuk itu,” katanya.

Ia juga menegaskan telah meminta Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk bergerak cepat melakukan langkah pencegahan dan penanganan dini.

“Saya sudah meminta kepada Dinas Kesehatan untuk segera mengatasi, menangani itu. Dan mudah-mudahan Jakarta lebih tanggap, karena persoalan yang menyangkut virus Nipah,” tutupnya.

Dalam kesempatan lain, Pramono kembali menekankan pentingnya belajar dari pengalaman menghadapi penyakit menular sebelumnya.

“Karena persoalan yang menyangkut virus Nipah terus kemudian yang kemarin kencing tikus dan sebagainya mudah-mudahan tidak terjadi di Jakarta,” kata dia.***

Read Entire Article
| | | |