M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan makna doa yang tidak terkabul sebagai bentuk kasih sayang Allah menurut hikmah ke-90 Al-Hikam Ibnu Atha’illah. (Youtube/
Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan Channel)
KabarJakarta.com – Doa sering dipahami sebagai sarana seorang hamba untuk menyampaikan harapan dan kebutuhan kepada Allah. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit doa yang terasa tak kunjung terjawab. Kondisi ini kerap memunculkan kekecewaan, bahkan kegelisahan batin. Menanggapi fenomena tersebut, Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan memberikan penjelasan mendalam melalui perspektif tasawuf yang bersumber dari kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari.
Dalam pemaparannya, M. Nur Kholis Setiawan menekankan bahwa doa yang tidak dikabulkan bukanlah tanda penolakan Allah, melainkan wujud kasih sayang-Nya yang sering kali tidak disadari oleh manusia. Penjelasan ini merujuk pada hikmah ke-90 Al-Hikam, yang mengajak manusia untuk memahami makna “pencegahan” sebagai bentuk ihsan dari Allah.
Pandangan Tasawuf tentang Pemberian dan Pencegahan
M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa dalam hubungan antara hamba dan Khaliknya, tidak semua yang diinginkan manusia harus diberikan. Ia mengutip prinsip tasawuf yang berbunyi: “Al-atau minal khalqi khirmanun wal man’u minallahi ihsanun.” Ungkapan ini menjelaskan bahwa pemberian dari makhluk bisa menjadi penghalang spiritual, sementara tidak diberikannya sesuatu oleh Allah justru merupakan kebaikan.
Menurutnya, Allah Maha Mengetahui dampak dari setiap permohonan yang dipanjatkan oleh hamba-Nya. Ketika sebuah doa tidak dikabulkan, bisa jadi hal tersebut bertujuan menjaga hati dan kesadaran spiritual agar tidak terjebak dalam kelalaian duniawi.
Hal ini ditegaskan oleh M. Nur Kholis Setiawan dalam pernyataannya,
“Ketika Allah tidak mengabulkan doa kita, ketika Allah tidak mengabulkan permohonan kita siang dan malam… sejatinya itu adalah sayang Allah kepada kita, Allah memperlakukan kita dengan baik.”
Doa, Karier, dan Ujian Husnuzan
Dalam kehidupan modern, doa sering kali berkaitan dengan pencapaian karier, jabatan, atau keberhasilan sosial. Tidak jarang seseorang merasa telah bekerja keras dan berdoa dengan sungguh-sungguh, tetapi hasil yang diharapkan tidak kunjung datang. Situasi ini kerap memunculkan rasa iri atau perasaan tidak adil ketika melihat orang lain lebih berhasil.
M. Nur Kholis Setiawan mengajak umat untuk menyikapi kondisi tersebut dengan husnuzan kepada Allah. Ia menegaskan bahwa apa yang terlihat baik secara duniawi belum tentu membawa kebaikan bagi kehidupan spiritual seseorang. Sebuah jabatan atau posisi tertentu bisa saja menjadi sebab kelalaian dan menjauhkan seseorang dari Allah.
Ia menyampaikan,
“Kita mesti harus berhusnudan bahwa Allah itu sayang kepada kita, karena siapa tahu dengan kita menduduki posisi tertentu justru membuat kita lalai dari apa yang seharusnya,” ujar Kholis.
Waspada terhadap Pemberian Sesama Manusia
Selain membahas doa yang tidak terkabul, M. Nur Kholis Setiawan juga menyoroti sikap manusia terhadap pemberian dari sesama makhluk. Ia mengingatkan bahwa pemberian manusia dapat menjadi hijab apabila membuat seseorang lupa bahwa semua nikmat sejatinya berasal dari Allah.
Ketika hati terlalu terpaut kepada manusia sebagai pemberi, ketergantungan kepada Allah bisa berkurang. Dalam kondisi ini, pemberian duniawi justru berpotensi mengalihkan fokus spiritual seorang hamba.
Hal tersebut dijelaskan M. Nur Kholis Setiawan dalam kutipannya,
“Pemberian dari makhluk itu menjadi penghalang karena apa? Karena ada rasa mencintaimu terhadap orang yang memberi, sehingga seolah-olah pemberian itu mampu membelokkan fokusmu untuk mengikuti apa saja yang dia lakukan,” imbuhnya.
Menjaga Hati agar Tetap Bergantung kepada Allah
Sebagai penutup, M. Nur Kholis Setiawan mengingatkan pesan Ali bin Abi Thalib agar manusia tidak menjadikan siapa pun sebagai sumber nikmat selain Allah. Doa yang tidak terkabul dan keinginan yang tertunda perlu dipahami sebagai bentuk penjagaan Allah terhadap hati hamba-Nya.
Dengan pemahaman ini, kekecewaan dapat berubah menjadi ketenangan. Seorang hamba akan melihat pencegahan bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai wujud kasih sayang Allah yang menjaga arah hidup dan kedekatan spiritualnya.***

6 days ago
31
















































